Selasa, 30 Desember 2014
Evaluasi perjalanan 2014 dan Resolusi 2015
Hari
ini saya baru menyempatkan diri kembali menulis, setelah kurang lebih satu
minggu ini aktivitas menulis kurang sekali. Saya lebih banyak membaca atau
menonton film di malam hari sambil sesekali hadir pada agenda-agenda harian.
3. Akhir
desember saya juga di tawari untuk menjadi pengurus di PB GABBINDO (gabungan
buruh islam indonesia). Saya excited dengan dunia baru ini. Buruh harus di
cerahkan agar tidak terus menerus di jadikan alat oleh sebagian oknum atas nama
kesejahteraan buruh.
4. Mudah-mudahan
terwujud, saya ingin membuat usaha kecil juga nantinya.
Senin, 22 Desember 2014
Catatan Harian 2
Semalam aku tidak sengaja melihat percakapan adikku dan mama melalui ponsel mama. Aku jadi sedikit bercermin pada diri sendiri. Adikku begitu mampu terbuka pada mama, dalam semua hal dia menceritakan kegiatannya di lingkungan baru kampusnya. Sementara aku, ada masalah yang berat sekalipun aku tidak pernah membuka cerita ke orang tuaku.
Padahal sedikit banyak memang aku butuh itu, butuh dorongan moril dari kedua orang tuaku.
Ini mungkin berkaitan dengan masa lalu kami, aku sejak kecil tidak terlalu banyak menghabiskan waktu bersama orangtua. Bahkan kelas 4 SD aku tinggal dengan bude di jakarta. Mungkin sedikit hal ini yang membuat aku sulit terbuka pada mereka.
Dalam hal ini, adikku sedikit beruntung karena dia masih bisa membagi bebannya pada orangtua, dan aku karena diriku sendiri harus menjadi 'single fighter'. Semua orang punya proporsi masing-masing memang dalam kehidupan. Tapi apapun itu, hari ini adalah hari ibu, hari yang dirayakan untuk para ibu di indonesia. Harusnya kata ini di ucapkan setiap hari untuk mama, I LOVE YOU MAH.
Sabtu, 20 Desember 2014
Catatan Harian 1
Agaknya hari ini banyak menimbulkan tanya setelah membaca buku Soe Hok Gie. Soe Hok Gie mau tidak mau dan suka tidak suka merupakan orang yang realis, bahkan cenderung utopis. Agaknya benar yang di katakan ahmad wahib tentangnya. Tulisannya tentang politik seperti memanggang roti untuk tamu, kita tidak memakannya, tapi mereka yang makan. Aku suka dengan gaya tulisannya, lugas dan memang berani, yang paling aku suka ketika menulis tentang romantika, dia juga berani telanjang pada tulisannya.
catatan harian seorang demonstran memang bukan untuk konsumsi umum awalnya, Gie hanya menulis kesehariannya. Sama seperti anak SMP yang menulis diary. Namun sekali lagi, dalam catatan hariannya banyak yang tersirat tentang perjalanan anak manusia menghadapi keadaan yang dimana dia sangat mengetahuinya. Itu membuka sedikit tabir sejarah tentang bagaimana kehidupan aktivis di tahun 60-an.
saya sendiri harus berterima kasih padanya, mungkin karena dia saya sedikit kembali produktif dalam membaca. Satu hari ini hampir satu bukunya habis di baca.
Tidak banyak hal tentang cinta yang di lalui hari ini, saya masih skeptis dengan cinta, tapi komunikasi tetap berjalan. Mungkin dia yang bisa membuka tabir skeptis saya. Selama kita komunikasi, kita selalu sependapat dalam banyak hal. Mudah-mudahan terus seperti itu.
Jumat, 12 Desember 2014
Manifestasi Lembaga dari Revolusi Mental
Hingar-bingar
pesta politik 2014 telah berakhir, indonesia memiliki pemimpin baru dalam
sejarah perjalanan bangsa. Demokrasi dan kehidupan politik berbangsa juga
semakin matang di tunjukkan masyarakat indonesia dengan terciptanya pemilu yang
aman tanpa ada kisruh berarti. Ir. H. Joko Widodo di daulat menjadi pemimpin
baru bangsa indonesia pada penyelenggaraan pemilu 2014.
Joko
widodo tampil sebagai pemenang pilpres mengungguli kompetitornya Prabowo
Subianto. Dalam perjalanannya, joko widodo mengusung konsep revolusi mental
sebagai makna perubahan yang akan di bawa olehnya jika memimpin indonesia ke
depan. Hal ini juga di tegaskan beliau sewaktu kampanye pilpres.
Revolusi mental menjadi instrumen yang berharga untuk
kemenangan pasangan Jokowi-JK, mengangkat konsep revolusi mental bagi masyarakat
indonesia merupakan hal yang tidak lumrah dan tidak mudah tentunya. Selain
harus matang dalam perencanaan, implementasi dari konsep ini pun harus jelas
arahnya, sehingga semua pihak dapat dengan “legowo” menjalankan apa yang di
sebut sebagai revolusi mental .
Pada
tulisan beliau yang mengangkat judul revolusi mental, jokowi menjadikan konsep
trisakti dari bung karno sebagai acuan sekaligus sebagai patron beliau dalam
membuat konsep revolusi mental ini.
Namun seiring perjalanan waktu mulai dari pengumuman
pemenang pemilu oleh KPU dan MK sampai pada pengumuman kabinet hingga detik
ini, konsep yang begitu mendasar dan cemerlang ini menguap begitu saja ke
permukaan.
Revolusi
Mental harus di manifestasikan secara nyata
Terlalu
dini memang, jika di katakan jokowi meninggalkan konsep ini dan hanya
menjadikan revolusi mental sebagai instrumen politik belaka, namun pada
kenyataannya kata revolusi mental tertinggal oleh frasa kabinet kerja, kartu
indonesia sehat dan kartu indeonesia pintar, belum lagi isu lain seperti
kenaikan harga bbm dan juga penghapusan kolom agama di KTP. Padahal revolusi
mental merupakan ide sekaligus role model yang sangat berharga untuk menuju
kepada kedaulatan bangsa seutuhnya.
Revolusi sendiri dapat diartikan sebagai perubahan sosial
dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau
pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat
direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa
kekerasan atau melalui kekerasan.
Sementara
mental secara harfiah dapat di artikan sebagai hal-hal yang berkenaan dengan
batin dan watak manusia. Revolusi mental bisa dikatakan perubahan secara cepat
terhadap sesuatu yang berkenaan dengan batin dan watak (pola fikir dan
kebiasaan), tentu perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang sifatnya
progresif dan visioner.
Dengan
konsep revolusi mental di harapkan dapat terjadi character building
(pembangunan karakter) manusia indonesia, tidak melulu pembangunan fisik yang
diutamakan.
Sejujurnya saya kagum dengan konsep yang beliau angkat
pada pemilu lalu, namun jika melihat keseriusan beliau dalam menjalankan
revolusi mental belakangan ini, malah justru saya menjadi pesimis.
Hal
utama yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana implementasi dari revolusi
mental ini di jalankan dan apa sesungguhnya yang menjadi manifestasi dari
revolusi mental di dalam pemerintahan.
Merujuk pada hal tersebut alangkah baiknya jika pak joko
widodo membuat sebuah lembaga atau kementerian yang fokus pada masalah
pembenahan mental atau revolusi mental bangsa, mungkin bisa di sebut sebagai “lembaga
atau kementerian pemikiran negara”, sebuah kementerian atau lembaga yang
menjalankan tugas dan fungsi utama sebagai pencetus ide, gagasan dan perumusan
sekaligus sebagai pembelajaran terhadap pembenahan mental dan budaya bangsa
dalam hal ini adalah proses pembiasaan rakyat sampai dapat terbentuk masyarakat
dengan karakter dan pola fikir yang di harapkan mengubah mentalitas bangsa
sesuai dengan cita-cita trisakti sebagai patron dari revolusi mental.
Selain
itu, kementerian atau lembaga ini juga di fungsikan sebagai penjaga nilai luhur
ideologi bangsa yaitu, Pancasila, dari gangguan ideologi lain. Adanya hal tersebut
di harapkan menjadi jalan keluar, juga solusi dari masalah krisis mentalitas
bangsa sehingga butuh di revolusi. Dengan demikian dapat menyentuh lebih dalam
kajian dan diskusi-diskusi soal revolusi mental termasuk implementasinya
terhadap masyarakat luas.
Sementara yang terjadi saat ini tidak ada satu pun
cerminan dalam pemerintahan yang menjadi manifestasi dari revolusi mental.
Postur kabinet yang di harapkan secara substantif dapat menyentuh pola fikir
bangsa dan membangun karakter manusia indonesia melalui revolusi mental, tidak
terjadi.
Kementerian
pendidikan sebagai ujung tombak dan manifestasi Revolusi Mental ?
Pemecahan
kementerian pendidikan menjadi 2, yaitu kementerian pendidikan dasar dan
kebudayaan lalu kementerian pendidikan menengah, tinggi dan riset tekhnologi,
tidak lantas menjadi jalan keluar dan memberi makna pada revolusi mental yang
di dengungkan selama ini. Bahkan cenderung tidak jelas arah dan tujuan dari
kementerian yang sebelumnya menjadi satu tersebut.
Apakah dengan pemisahan kementerian, lantas pak jokowi
dapat menjalankan revolusi mental sesuai harapannya ?
Kementerian pendidikan memang erat kaitannya dengan
proses pembentukan karakter, namun tidak ada urgensi memisahkan antara
pendidikan dasar dan pendidikan menengah juga tinggi.
Jika
sasarannya adalah pendidikan dasar diharapkan mendapat output yang lebih
nasionalis dan mengenal budaya bangsa karena substansi pendidikan menyoal
budaya ada di kementerian pendidikan dasar, lalu pendidikan menengah dan tinggi
diharapkan dapat menciptakan output yang berorientasi pada riset dan tekhnologi,
maka saya khawatir nantinya manusia indonesia yang cakap dalam riset tekhnologi
malah akan melupakan jati diri bangsa indonesia. Hal ini harus jelas arahnya
agar tidak salah kaprah.
Jika belajar pada restorasi meiji di jepang dan juga
revolusi industri di inggris, ada sebuah gerakan sosial yang menghantarkan
kondisi negara pada tingkatan perubahan. Revolusi industri lebih nyata, gerakan
perubahan sosial pada revolusi industri di tandai dengan banyaknya hasil
penemuan berdasar riset tekhnologi, sehingga menghantarkan inggris pada kondisi
industrialiasasi terhadap kehidupan sosialnya.
Perjalanannya
pun tidak tiba-tiba terjadi begitu saja, saat revolusi industri terjadi ada
beberapa lembaga riset yang menunjang itu semua, diantaranya The Royal Society for Improving Natural
Knowledge dan The Royal Society of
England (1662).
Hal ini memang lumrah dan cenderung harus di lakukan,
semangat revolusi mental yang selama ini menjadi jargon kampanye presiden joko
widodo di harapkan sebagai sebuah gerakan sosial yang didasari keinginan kuat
merubah mentalitas bangsa dengan presiden menjadi panglima.
Walaupun
pada akhir tulisan pak jokowi, isinya hanya menghimbau jika revolusi mental
harus di mulai dari pribadi masing-masing, jika ini mengenai kepentingan bangsa
dan negara kedepannya dan di anggap penting di lakukan maka harus ada aksi
nyata dari pak joko widodo soal revolusi mental dan jelas negara harus hadir di
dalam masyarakat agar terjadi kesinambungan demi terwujudnya revolusi mental.
Entah
dimulai dengan konsentrasi dan fokus pada sebuah lembaga atau di giatkan
melalui sistem yang nantinya di bangun pak jokowi dalam pemerintahannya. Satu
hal yang pasti, pak joko widodo jangan di biarkan sendiri dalam membentuk
tatanan indonesia yang hebat, tapi di perlukan sumbangsih dari seluruh pihak
dan elemen masyarakat dalam upaya mewujudkan karakter building melalui revolusi
mental agar tercipta kondisi seperti yang di cita-citakan founding father
melalui maklumat TRISAKTI.
Kamis, 20 November 2014
Sedikit Celoteh Soal Kenaikan Harga BBM
Salam sejahtera indonesia. Beberapa hari ini media nasional, lokal bahkan media sosial ramai membicarakan masalah kenaikan harga BBM yang di putuskan oleh pemerintahan Jokowi – JK. Alasannya beragam, dengan reaksi yang rata-rata menolak. Ada yang beralasan jika bbm di naikkan maka akan menyengsarakan rakyat kecil dan ada pula yang menolak karena ikut persepsi kalangan umum.
Bagi saya kenaikan harga BBM merupakan hal yang lazim terjadi, namun saya tetap memiliki catatan atas tidak wajarnya kebijakan kenaikan bbm ini di lakukan dalam tempo yang cepat bahkan saat umur pemerintahan Jokowi – JK belum genap satu bulan.
Saya mencatat pertama, dalam hal pengambilan keputusan kenaikan harga, pemerintah cenderung terburu-buru, pak presiden bahkan baru tiba dari kunjungan kerja internasionalnya pada tanggal 16 November, lalu langsung mengumumkan kenaikan harga pada tanggal 17 November malam. Dengan sebelumnya banyak isu-isu kenaikan harga bbm yang membuat pasar panik lantas menjadikan harga bahan pokok merangkak naik karena ketidak jelasan mengenai isu tersebut. Presiden terkesan tertutup bahkan isu naiknya harga bbm ini sangat samar sekali mengenai waktu dan besaran kenaikan.
Alhasil menimbulkan efek panik dan spekulasi sehingga berakibat naiknya harga bahan-bahan pokok, kebijakan yang tiba-tiba ini juga membuat pemerintah di anggap kurang tanggap menyelesaikan masalah ekonomi pasca kenaikan harga bbm. Misalnya saja, program pemerintah untuk menstimulus rakyat, agar menjaga daya beli masyarakat menengah ke bawah tidak tersosialisasi dengan baik, sehingga masyarakat di daerah tetap berteriak atas kenaikan harga bbm ini. Ini catatan saya menyoal pengambilan kebijakan oleh pemerintah. Jika saya cermati sebetulnya informasi kenaikan harga bbm ini sengaja di samarkan dan tidak terlalu terdengar gaungnya, agar tidak terjadi kekisruhan dan kegaduhan politik. Namun tetap saja ada implikasi ekonominya. Pemerintah harus berkomunikasi dengan TPID (tim penanggulangan inflasi daerah) mengenai besaran kenaikan harga bahan pokok dan formulasi untuk menekan inflasi di di daerah.
Dan yang harus di garisbawahi dalam hal buru-buru ini dampaknya adalah kurang terkoordinasinya sebagian hal yang berpengaruh langsung terhadap kenaikan bbm ini. Seperti misalnya aksi mogok yang di lakukan ORGANDA (organisasi angkutan darat) di berbagai wilayah. Mereka merasa tidak di libatkan dalam penghitungan kenaikan harga sehingga efek kejut juga di rasakan oleh pemoda transportasi, dalam hal ini berkaitan dengan penetapan ongkos transportasi.
Catatan kedua adalah soal alasan kenaikan harga. Pemerintah beralasan naiknya harga bbm perlu di lakukan walaupun harga minyak dunia sedang turun. Dengan begitu di harapkan subsidi bbm yang besarannya mencapai 291 triliun di cabut dan di alokasikan untuk pembangunan infrastruktur juga program kesehatan. Dalam kampanye pak presiden, anggaran sebesar itu dapat di gunakan untuk membangun 5 proyek MRT, 9 rel kereta jalur ganda, 16 bandara baru, anggaran untuk desa sebesar 1,5 milyar per desa, anggaran jaminan kesehatan dan pembangunan infrastruktur lain.
Jika ini berjalan begitu adanya, maka langkah strategis pemerintah dalam re-alokasi anggaran dari pos konsumsi ke pos produksi adalah tepat adanya dan patut di apresiasi. Pembangunan infrastruktur amat di perlukan bagi indonesia agar pertumbuhan ekonomi terjadi seperti yang di harapkan. Sebagai penunjang utama kegiatan ekonomi Hulu-Hilir, infrastruktur penting keberadaannya, jika di suatu negara memiliki infrastruktur yang memadai maka kegiatan ekonomi akan bergerak cepat dan investor pasti melirik, sebab biaya distribusi ekonomi bisa di tekan. Itu adalah catatan positif bagi rencana re-alokasi anggaran. Namun tetap harus memegang prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam rencana tersebut.
Hanya saja niat mulia ini tidak di barengi dengan sosialisasi dan informasi yang menyeluruh kepada masyarakat, sehingga mau tidak mau menimbulkan gejolak sosial seperti demonstrasi penolakan kenaikan harga bbm oleh sebagian kalangan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah kurang sigap dalam menyiapkan antisipasi gejolak sosial pasca kenaikan harga bbm.
Catatan selanjutnya mengenai besaran kenaikan dan strategi pemerintah. Harga bahan bakar premium dan solar naik masing-masing Rp. 2.000,-. Premium ke tingkat harga 8.500 dari sebelumnya 6.500 dan solar menjadi 7.500 dari sebelumnya 5.500.
Lalu mengapa besaran kenaikan harus Rp. 2.000,- ?
Pemerintah sebetulnya yang lebih berhak dan harus secara terbuka menjawab masalah ini. Belum lagi soal pertanyaan mengenai, saat harga minyak dunia turun lantas kenapa bbm di indonesia malah naik ?
Bagi saya secara pribadi kenaikan bbm hingga mencapai besaran kenaikan 2.000 rupiah telah menutup keran-keran pencurian terhadap bbm bersubsidi, yang di lakukan oleh mafia migas. Sebagaimana di ketahui bersama, kemungkinan pencurian ini telah di katakan oleh menteri kelautan dan perikanan, Susi pudjiastuti. Bbm subsidi kita di curi di tengah laut, dengan modus mengisi bbm subsidi di pelabuhan indonesia lantas di tengah laut bbm subsidi ini di sedot oleh kapal lain yang kemudian di jual ke negara lain. Dengan tingkat harga 8.500 ini menutup kemungkinan tersebut. Karena harga bbm kita merupakan yang tertinggi di asia tenggara. Ya, mafia migas pasti panik menerima kenyataan seperti ini. Memberantas mafia migas merupakan hal yang urgen, harus di lakukan secepatnya.
Kita harus memahami secara mendalam mengapa harga minyak dunia turun dan indonesia menaikkan harga bbm. Selain karena hal yang telah di jelaskan di atas terkait mafia migas. Harga minyak dunia turun di akibatkan resesi yang terjadi di jepang, sehingga permintaan terhadap minyak dunia menurun dan secara otomatis harga, juga menurun karena ketersediaan pasokan.
Fenomena rezim ISIS di timur tengah juga patut di perhitungkan, menurut perspektif, Indra J. Pilliang (Peneliti CSIS), fenomena ISIS yang telah menduduki daerah-daerah penghasil minyak di timur tengah dan menjualnya secara bebas dan setengah harga membuat ketersediaan pasokan minyak mentah dunia melimpah, implikasinya harga minyak mentah dunia menurun. Negara-negara seperti indonesia pastinya lebih memilih membeli daripada harus mengambil dari kilang-kilang di dalam negeri, hal ini di lakukan demi menjaga ketersediaan minyak mentah produksi dalam negeri yang di prediksi akan habis 10 tahun lagi.
Keterkaitan antara hal tersebut dengan naiknya harga bbm jelas ada, yaitu untuk mengurangi pemakaian dalam negeri yang mencapai jumlah 73 juta kiloliter dalam setahun. Jika harga premium di tingkatkan hingga tingkat harga 8.500 rupiah dan mendekati pertamax yang berada pada tingkatan 9.000 s.d 10.500 rupiah. Jika anda rasional dengan hal ini maka anda pasti memilih membeli bbm non subsidi dengan pertimbangan harga yang tidak terlampau jauh namun kualitas lebih bagus bbm non subsidi.
Ini adalah strategi pemerintah dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi bangsa. Jika, kita berkaca pada kebijakan ini maka pemerintah menginginkan rakyatnya tidak bergantung pada subsidi pemerintah namun roda perekonomian tetap berjalan. Sesuai dengan cita-cita kemandirian ekonomi.
Kebijakan ini juga harus di barengi dengan program peningkatan kesejahteraan yang di lakukan pemerintah guna menjaga kemampuan ekonomi dan daya beli masyarakat menengah ke bawah. Masyarakat berhak menagih janji presiden jokowi untuk berpihak pada mereka, untuk membela kepentingan rakyat miskin. Sampai detik ini masih banyak masyarakat percaya jika kenaikan harga bbm semata-mata di lakukan untuk kesejahteraan masyarakat, bukan untuk menghimpit kehidupan mereka. jaga kepercayaan itu Pak Presiden Jokowi.
Sabtu, 13 September 2014
Cinta Menurut Socrates (Ilustrasi)
Di sore hari, saat matahari hampir tiba di peraduannya. Socrates dan
plato berbincang hangat, kali ini bukan menyoal budaya, masyarakat
ataupun alam. Tapi kali ini menyoal hakekat dasar manusia, CINTA.
Plato bertanya pada socrates, sebenarnya bagaimana bentuk cinta sejati dalam pencarian di kehidupan ? Lalu socrates mengajak plato ke sebuah hamparan rumput. Sambil berjalan, socrates mengambil beberapa ranting pohon lalu menyimpannya. Di tempat tujuan socrates menyuruh plato diam, lalu socrates berjalan sambil meletakkan ranting-ranting yang di ambilnya tadi pada hamparan rumput, secara berbaris satu per satu.
Socrates lalu menghampiri plato, dan berkata, plato ini analogi pencarian cinta sejati. Kamu berjalan ke arah ranting yang telah ku susun tadi, temukan lah ranting terbaik, tapi kamu tidak boleh mundur lagi ketika ranting terbaik sudah kau temukan.
Lalu plato berjalan sambil memilih ranting yang menurutnya terbaik. Beberapa menit berlalu, dan plato menemui socrates tanpa satu pun ranting yang ia ambil.
Socrates bertanya, kenapa tidak ada satu pun ranting yang kau ambil ?
Jawaban plato, ketika aku berjalan dan mulai mencari, di tengah pencarianku aku telah dapatkan ranting terbaik, tapi aku mencoba berspekulasi, mungkin di depan sana masih ada yang lebih baik. Tapi aku salah, di depan sana tidak ada ranting yang lebih baik dari yang ku temukan tadi. Karena tidak boleh mundur, akhirnya aku tidak mengambil satu pun. Sebab aku telah lewatkan ranting terbaik itu dengan spekulasi di depan masih ada yang lebih baik.
Itulah cinta sejati. Tanpa kita sadari dia sering kita lewatkan demi waktu ke depan yang membuat kita mencari, alhasil kekecewaan lah yang hadir. Yakinlah ketika menemukan yang terbaik, jangan berspekulasi terhadap masa depan cinta yang ternyata tak jelas.
Plato bertanya pada socrates, sebenarnya bagaimana bentuk cinta sejati dalam pencarian di kehidupan ? Lalu socrates mengajak plato ke sebuah hamparan rumput. Sambil berjalan, socrates mengambil beberapa ranting pohon lalu menyimpannya. Di tempat tujuan socrates menyuruh plato diam, lalu socrates berjalan sambil meletakkan ranting-ranting yang di ambilnya tadi pada hamparan rumput, secara berbaris satu per satu.
Socrates lalu menghampiri plato, dan berkata, plato ini analogi pencarian cinta sejati. Kamu berjalan ke arah ranting yang telah ku susun tadi, temukan lah ranting terbaik, tapi kamu tidak boleh mundur lagi ketika ranting terbaik sudah kau temukan.
Lalu plato berjalan sambil memilih ranting yang menurutnya terbaik. Beberapa menit berlalu, dan plato menemui socrates tanpa satu pun ranting yang ia ambil.
Socrates bertanya, kenapa tidak ada satu pun ranting yang kau ambil ?
Jawaban plato, ketika aku berjalan dan mulai mencari, di tengah pencarianku aku telah dapatkan ranting terbaik, tapi aku mencoba berspekulasi, mungkin di depan sana masih ada yang lebih baik. Tapi aku salah, di depan sana tidak ada ranting yang lebih baik dari yang ku temukan tadi. Karena tidak boleh mundur, akhirnya aku tidak mengambil satu pun. Sebab aku telah lewatkan ranting terbaik itu dengan spekulasi di depan masih ada yang lebih baik.
Itulah cinta sejati. Tanpa kita sadari dia sering kita lewatkan demi waktu ke depan yang membuat kita mencari, alhasil kekecewaan lah yang hadir. Yakinlah ketika menemukan yang terbaik, jangan berspekulasi terhadap masa depan cinta yang ternyata tak jelas.
Jumat, 12 September 2014
RAKYAT punya kuasa, Bukan DPRD !!!
Indonesia sedang mengalami banyak ujian akhir-akhir ini, belakangan masyarakat indonesia di sibukkan oleh isu perubahan mendasar sistem pilkada langsung dengan pemilihan kepala daerah yang di serahkan kepada DPRD. Isu ini sungguh memilukan bagi negara demokrasi seperti indonesia.
Masih membekas di ingatan kita semua bagaimana perjalanan demokrasi di indonesia, 32 tahun indonesia di pimpin oleh sistem yang berprinsip otoritarian. Berujung pada penggulingan kekuasaan dan indonesia di hadiahi reformasi pada tahun 1998. Selepas reformasi 1998 indonesia terus mencari bentuk ideal dalam hal ini proses pemilihan kepala daerah. mengikuti alur sistem perpolitikan di indonesia, era reformasi yang menginginkan kedaulatan ada di tangan rakyat dan daerah sebagai penafsiran dari otonomi daerah. Hal tersebut di wujudkan dalam UU nomor 32 Tahun 2004 mengenai prosesi pemilihan kepala daerah, yang sebelumnya merupakan pengganti dari UU nomor 22 tahun 1999 yang secara substantif sangat berbeda. Pada UU nomor 22 tahun 1999 prosesi pemilihan kepala daerah di serahkan kepad DPRD, namun pada UU nomor 32 tahun 2004 prosesi pemilihan kepala daerah di lakukan secara langsung oleh masyarakat di daerah.
Dampak dan implikasi perubahan Undang-undang ini sangat berarti besar bagi wujud demokrasi dan partisipasi politik di indonesia. pada awalnya proses pemilihan kepala daerah secara langsung ini banyak menimbulkan polemik, dengan adanya pemilihan kepala daerah secara langsung maka gesekan politik sentimentil sangat sering terjadi pada daerah yang melakukan pemilihan kepala daerah, pada pemberitaan media massa sungguh sangat sering kita melihat konflik horizontal dari pemilihan kepala daerah ini akibat dari massa yang calonnya kalah seringkali tidak menerima kekalahan, belum lagi kita di suguhi pemberitaan para kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi, hal ini sangat sering kita dengar pada awal-awal sistem ini di terapkan.
Namun seiring berjalannya waktu maka semakin dewasa pula rakyat indonesia dalam berpolitik dan menghadapi pesta demokrasi di tiap daerah. sekarang kita jarang melihat adanya konflik horizontal di daerah akibat pemilukada. malahan sistem pemilihan langsung ini berhasil membuahkan pemimpin-pemimpin yang kredibel dan memiliki rasa memiliki terhadap daerah. Hal ini terjadi karena dengan adanya pemilihan langsung maka rakyat di sediakan putra-putri terbaik daerah untuk memimpin daerahnya, rakyat mengenal pemimpinnya dan tersedianya akses yang luas terhadap pemimpin daerah. Pemilihan kepala daerah juga membuahkan pemimpin-pemimpin muda yang kredibili dan kemampuannya di akui nasional, kita bisa menyebut joko widodo yang mengawali karier politik melalui pemilihan langsung di solo, ridwan kamil yang juga merupakan buah dari proses pemilihan langsung di kota bandung, juga ada bima arya seorang tokoh muda hasil dari pemilihan langsung di kota bogor.
Kita sudah hampir tidak mendengar lagi konflik horizontal di daerah walaupun di sebagian daerah hal itu masih terjadi karena sedang mengalami proses pendewasaan politik, namun buah dari proses pilkada langsung ini bisa kita panen hasilnya sekarang, dengan menelurkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas di daerah.
Seharusnya DPR RI tidak gegabah dalam mengambil keputusan, jika dasarnya adalah untuk kepentingan rakyat, maka rakyat yang mana ?
bukan sistemnya yang harus di ganti secara subsntansial namun prosesi dan hal teknisnya saja yang perlu di sempurnakan. Jangan mengambil hak rakyat karena syahwat politik segelintir kaum. Jangan memundurkan lagi peradaban yang sudah kita bangun dengan keringat dan darah. Juga jangan semakin mempertontonkan dagelan politik yang hanya akan merugikan rakyat. Pemilihan kepala daerah oleh DPRD merupakan perampasan hak politik rakyat dan juga cara-cara tidak bijak dengan menutup akses rakyat mengenal lebih pemimpin daerahnya. Kepala daerah bekerja untuk rakyat dan daerahnya bukan bekerja kepada DPRD oleh sebab itu rakyat punya hak mengambil keputusan siapa yang pantas memimpin daerahnya.
Masih membekas di ingatan kita semua bagaimana perjalanan demokrasi di indonesia, 32 tahun indonesia di pimpin oleh sistem yang berprinsip otoritarian. Berujung pada penggulingan kekuasaan dan indonesia di hadiahi reformasi pada tahun 1998. Selepas reformasi 1998 indonesia terus mencari bentuk ideal dalam hal ini proses pemilihan kepala daerah. mengikuti alur sistem perpolitikan di indonesia, era reformasi yang menginginkan kedaulatan ada di tangan rakyat dan daerah sebagai penafsiran dari otonomi daerah. Hal tersebut di wujudkan dalam UU nomor 32 Tahun 2004 mengenai prosesi pemilihan kepala daerah, yang sebelumnya merupakan pengganti dari UU nomor 22 tahun 1999 yang secara substantif sangat berbeda. Pada UU nomor 22 tahun 1999 prosesi pemilihan kepala daerah di serahkan kepad DPRD, namun pada UU nomor 32 tahun 2004 prosesi pemilihan kepala daerah di lakukan secara langsung oleh masyarakat di daerah.
Dampak dan implikasi perubahan Undang-undang ini sangat berarti besar bagi wujud demokrasi dan partisipasi politik di indonesia. pada awalnya proses pemilihan kepala daerah secara langsung ini banyak menimbulkan polemik, dengan adanya pemilihan kepala daerah secara langsung maka gesekan politik sentimentil sangat sering terjadi pada daerah yang melakukan pemilihan kepala daerah, pada pemberitaan media massa sungguh sangat sering kita melihat konflik horizontal dari pemilihan kepala daerah ini akibat dari massa yang calonnya kalah seringkali tidak menerima kekalahan, belum lagi kita di suguhi pemberitaan para kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi, hal ini sangat sering kita dengar pada awal-awal sistem ini di terapkan.
Namun seiring berjalannya waktu maka semakin dewasa pula rakyat indonesia dalam berpolitik dan menghadapi pesta demokrasi di tiap daerah. sekarang kita jarang melihat adanya konflik horizontal di daerah akibat pemilukada. malahan sistem pemilihan langsung ini berhasil membuahkan pemimpin-pemimpin yang kredibel dan memiliki rasa memiliki terhadap daerah. Hal ini terjadi karena dengan adanya pemilihan langsung maka rakyat di sediakan putra-putri terbaik daerah untuk memimpin daerahnya, rakyat mengenal pemimpinnya dan tersedianya akses yang luas terhadap pemimpin daerah. Pemilihan kepala daerah juga membuahkan pemimpin-pemimpin muda yang kredibili dan kemampuannya di akui nasional, kita bisa menyebut joko widodo yang mengawali karier politik melalui pemilihan langsung di solo, ridwan kamil yang juga merupakan buah dari proses pemilihan langsung di kota bandung, juga ada bima arya seorang tokoh muda hasil dari pemilihan langsung di kota bogor.
Kita sudah hampir tidak mendengar lagi konflik horizontal di daerah walaupun di sebagian daerah hal itu masih terjadi karena sedang mengalami proses pendewasaan politik, namun buah dari proses pilkada langsung ini bisa kita panen hasilnya sekarang, dengan menelurkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas di daerah.
Seharusnya DPR RI tidak gegabah dalam mengambil keputusan, jika dasarnya adalah untuk kepentingan rakyat, maka rakyat yang mana ?
bukan sistemnya yang harus di ganti secara subsntansial namun prosesi dan hal teknisnya saja yang perlu di sempurnakan. Jangan mengambil hak rakyat karena syahwat politik segelintir kaum. Jangan memundurkan lagi peradaban yang sudah kita bangun dengan keringat dan darah. Juga jangan semakin mempertontonkan dagelan politik yang hanya akan merugikan rakyat. Pemilihan kepala daerah oleh DPRD merupakan perampasan hak politik rakyat dan juga cara-cara tidak bijak dengan menutup akses rakyat mengenal lebih pemimpin daerahnya. Kepala daerah bekerja untuk rakyat dan daerahnya bukan bekerja kepada DPRD oleh sebab itu rakyat punya hak mengambil keputusan siapa yang pantas memimpin daerahnya.
Kamis, 11 September 2014
Refleksi Mahasiswa Dan Pemuda
Tahun 1998 reformasi dimulai, pendudukan gedung DPR/MPR terjadi, saat
itu beranjak sekolah dasar. Media ramai-ramai memberitakan bahwa
mahasiswa telah berhasil menduduki gedung DPR/MPR untuk menuntut adanya
reformasi dengan simbol turunnya rezim orde baru yang di komandoi pak
soeharto.
Dalam benak saya saat itu, menjadi mahasiswa itu hebat, kita bisa menggoreskan sejarah dengan tangan kita sendiri. Hanya mahasiswa yang bisa bahkan statusnya pun menjadi agent of change atau agen perubahan. Luar biasa beban dan tanggung jawab menyandang status itu. Perubahan dalam skala universal dan sifatnya yang masif.
Impian itu saya lanjutkan dan buktikan ketika masuk perguruan tinggi seperti apa sebenarnya dunia kampus yang di isi oleh kaum intelegensia. Hari pertama masuk sampai minggu pertama semua membosankan. Hanya belajar, duduk di kelas, menunggu dosen masuk, sebagian mengincar absen, sebagian memang berniat untuk mengetahui apa yang akan di jelaskan dosen.
Sebulan berjalan saya mulai mencari tau dan menghubungkannya ke sejarah.
Apa ini dunia yang saya impikan ?
Apa ini dunia yang bisa menghasilkan perubahan secara kumulatif ?
Semua kontradiktif dengan angan-angan saya.
Untuk mendapat Indeks prestasi yang baik tak jarang yang menggunakan berbagai cara, mencontek, melobby dosen dan sebagainya. Masuk kelas hanya mengincar absen karena penilaian afektif 40%. Ini dunia pembodohan. Katanya mereka agen perubahan, tapi apa yang mau di rubah kalau diri sendiri masih semrawut. Kalaupun tidak mau turun ke jalan silahkan rubah keadaan ini dengan kualitas individu yang akan menularkan kualitas secara masif lalu timbul pertumbuhan dan perubahan nantinya.
Tapi kualitas apa ?
Seperti apa gaya perubahannya jika budaya apatisme dan western yang di bawa masuk ke kampus ?
Indonesia butuh generasi muda yang nasionalis, bukan sekedar jenius. Indonesia butuh pemuda yang cerdas, tidak hanya pintar. Indonesia butuh pemuda yang berani mendobrak kungkungan zaman bukan malah terpenjara dengan modernisme.
Kita semua yang merasa muda dan memiliki andil dalam perubahan bangsa, mari kita berikan seluruh apa yang kita punya untuk bangsa ini.
Dalam benak saya saat itu, menjadi mahasiswa itu hebat, kita bisa menggoreskan sejarah dengan tangan kita sendiri. Hanya mahasiswa yang bisa bahkan statusnya pun menjadi agent of change atau agen perubahan. Luar biasa beban dan tanggung jawab menyandang status itu. Perubahan dalam skala universal dan sifatnya yang masif.
Impian itu saya lanjutkan dan buktikan ketika masuk perguruan tinggi seperti apa sebenarnya dunia kampus yang di isi oleh kaum intelegensia. Hari pertama masuk sampai minggu pertama semua membosankan. Hanya belajar, duduk di kelas, menunggu dosen masuk, sebagian mengincar absen, sebagian memang berniat untuk mengetahui apa yang akan di jelaskan dosen.
Sebulan berjalan saya mulai mencari tau dan menghubungkannya ke sejarah.
Apa ini dunia yang saya impikan ?
Apa ini dunia yang bisa menghasilkan perubahan secara kumulatif ?
Semua kontradiktif dengan angan-angan saya.
Untuk mendapat Indeks prestasi yang baik tak jarang yang menggunakan berbagai cara, mencontek, melobby dosen dan sebagainya. Masuk kelas hanya mengincar absen karena penilaian afektif 40%. Ini dunia pembodohan. Katanya mereka agen perubahan, tapi apa yang mau di rubah kalau diri sendiri masih semrawut. Kalaupun tidak mau turun ke jalan silahkan rubah keadaan ini dengan kualitas individu yang akan menularkan kualitas secara masif lalu timbul pertumbuhan dan perubahan nantinya.
Tapi kualitas apa ?
Seperti apa gaya perubahannya jika budaya apatisme dan western yang di bawa masuk ke kampus ?
Indonesia butuh generasi muda yang nasionalis, bukan sekedar jenius. Indonesia butuh pemuda yang cerdas, tidak hanya pintar. Indonesia butuh pemuda yang berani mendobrak kungkungan zaman bukan malah terpenjara dengan modernisme.
Kita semua yang merasa muda dan memiliki andil dalam perubahan bangsa, mari kita berikan seluruh apa yang kita punya untuk bangsa ini.
SENJA AWAL CERITA
Senja menjadi awal cerita, cerita cinta, dilema dan murka.
Aku masih mengingat kala senja dengan senyumnya.
Aku masih mengingat kala senja dengan ramahnya.
Senja itu masih sangat membekas di ingatan dunia.
Kasih sungguh tak sempurna dan bahkan tak bahagia.
Aku kira senyummu berbeda dari dimensi kaum hawa.
Ternyata semua dalam bingkai yang serupa.
Ya, semua tampak serupa walau tampak berbeda.
Mungkin dunia sedang ingin bersolek denganku.
Menunjukkan kepalsuan sambil terus berseru.
Sekali lagi aku kalah dengan pesona itu.
Pesona yang tak pernah padam dalam senja biru.
Aku tak tahu keberadaanmu kini, tapi yakinlah senja.
Doaku akan selalu bersemai di antara pedihnya cinta.
Aku masih mengingat kala senja dengan senyumnya.
Aku masih mengingat kala senja dengan ramahnya.
Senja itu masih sangat membekas di ingatan dunia.
Kasih sungguh tak sempurna dan bahkan tak bahagia.
Aku kira senyummu berbeda dari dimensi kaum hawa.
Ternyata semua dalam bingkai yang serupa.
Ya, semua tampak serupa walau tampak berbeda.
Mungkin dunia sedang ingin bersolek denganku.
Menunjukkan kepalsuan sambil terus berseru.
Sekali lagi aku kalah dengan pesona itu.
Pesona yang tak pernah padam dalam senja biru.
Aku tak tahu keberadaanmu kini, tapi yakinlah senja.
Doaku akan selalu bersemai di antara pedihnya cinta.
Langganan:
Postingan (Atom)
