Senja menjadi awal cerita, cerita cinta, dilema dan murka.
Aku masih mengingat kala senja dengan senyumnya.
Aku masih mengingat kala senja dengan ramahnya.
Senja itu masih sangat membekas di ingatan dunia.
Kasih sungguh tak sempurna dan bahkan tak bahagia.
Aku kira senyummu berbeda dari dimensi kaum hawa.
Ternyata semua dalam bingkai yang serupa.
Ya, semua tampak serupa walau tampak berbeda.
Mungkin dunia sedang ingin bersolek denganku.
Menunjukkan kepalsuan sambil terus berseru.
Sekali lagi aku kalah dengan pesona itu.
Pesona yang tak pernah padam dalam senja biru.
Aku tak tahu keberadaanmu kini, tapi yakinlah senja.
Doaku akan selalu bersemai di antara pedihnya cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar