Selasa, 30 Desember 2014
Evaluasi perjalanan 2014 dan Resolusi 2015
Hari
ini saya baru menyempatkan diri kembali menulis, setelah kurang lebih satu
minggu ini aktivitas menulis kurang sekali. Saya lebih banyak membaca atau
menonton film di malam hari sambil sesekali hadir pada agenda-agenda harian.
3. Akhir
desember saya juga di tawari untuk menjadi pengurus di PB GABBINDO (gabungan
buruh islam indonesia). Saya excited dengan dunia baru ini. Buruh harus di
cerahkan agar tidak terus menerus di jadikan alat oleh sebagian oknum atas nama
kesejahteraan buruh.
4. Mudah-mudahan
terwujud, saya ingin membuat usaha kecil juga nantinya.
Senin, 22 Desember 2014
Catatan Harian 2
Semalam aku tidak sengaja melihat percakapan adikku dan mama melalui ponsel mama. Aku jadi sedikit bercermin pada diri sendiri. Adikku begitu mampu terbuka pada mama, dalam semua hal dia menceritakan kegiatannya di lingkungan baru kampusnya. Sementara aku, ada masalah yang berat sekalipun aku tidak pernah membuka cerita ke orang tuaku.
Padahal sedikit banyak memang aku butuh itu, butuh dorongan moril dari kedua orang tuaku.
Ini mungkin berkaitan dengan masa lalu kami, aku sejak kecil tidak terlalu banyak menghabiskan waktu bersama orangtua. Bahkan kelas 4 SD aku tinggal dengan bude di jakarta. Mungkin sedikit hal ini yang membuat aku sulit terbuka pada mereka.
Dalam hal ini, adikku sedikit beruntung karena dia masih bisa membagi bebannya pada orangtua, dan aku karena diriku sendiri harus menjadi 'single fighter'. Semua orang punya proporsi masing-masing memang dalam kehidupan. Tapi apapun itu, hari ini adalah hari ibu, hari yang dirayakan untuk para ibu di indonesia. Harusnya kata ini di ucapkan setiap hari untuk mama, I LOVE YOU MAH.
Sabtu, 20 Desember 2014
Catatan Harian 1
Agaknya hari ini banyak menimbulkan tanya setelah membaca buku Soe Hok Gie. Soe Hok Gie mau tidak mau dan suka tidak suka merupakan orang yang realis, bahkan cenderung utopis. Agaknya benar yang di katakan ahmad wahib tentangnya. Tulisannya tentang politik seperti memanggang roti untuk tamu, kita tidak memakannya, tapi mereka yang makan. Aku suka dengan gaya tulisannya, lugas dan memang berani, yang paling aku suka ketika menulis tentang romantika, dia juga berani telanjang pada tulisannya.
catatan harian seorang demonstran memang bukan untuk konsumsi umum awalnya, Gie hanya menulis kesehariannya. Sama seperti anak SMP yang menulis diary. Namun sekali lagi, dalam catatan hariannya banyak yang tersirat tentang perjalanan anak manusia menghadapi keadaan yang dimana dia sangat mengetahuinya. Itu membuka sedikit tabir sejarah tentang bagaimana kehidupan aktivis di tahun 60-an.
saya sendiri harus berterima kasih padanya, mungkin karena dia saya sedikit kembali produktif dalam membaca. Satu hari ini hampir satu bukunya habis di baca.
Tidak banyak hal tentang cinta yang di lalui hari ini, saya masih skeptis dengan cinta, tapi komunikasi tetap berjalan. Mungkin dia yang bisa membuka tabir skeptis saya. Selama kita komunikasi, kita selalu sependapat dalam banyak hal. Mudah-mudahan terus seperti itu.
Jumat, 12 Desember 2014
Manifestasi Lembaga dari Revolusi Mental
Hingar-bingar
pesta politik 2014 telah berakhir, indonesia memiliki pemimpin baru dalam
sejarah perjalanan bangsa. Demokrasi dan kehidupan politik berbangsa juga
semakin matang di tunjukkan masyarakat indonesia dengan terciptanya pemilu yang
aman tanpa ada kisruh berarti. Ir. H. Joko Widodo di daulat menjadi pemimpin
baru bangsa indonesia pada penyelenggaraan pemilu 2014.
Joko
widodo tampil sebagai pemenang pilpres mengungguli kompetitornya Prabowo
Subianto. Dalam perjalanannya, joko widodo mengusung konsep revolusi mental
sebagai makna perubahan yang akan di bawa olehnya jika memimpin indonesia ke
depan. Hal ini juga di tegaskan beliau sewaktu kampanye pilpres.
Revolusi mental menjadi instrumen yang berharga untuk
kemenangan pasangan Jokowi-JK, mengangkat konsep revolusi mental bagi masyarakat
indonesia merupakan hal yang tidak lumrah dan tidak mudah tentunya. Selain
harus matang dalam perencanaan, implementasi dari konsep ini pun harus jelas
arahnya, sehingga semua pihak dapat dengan “legowo” menjalankan apa yang di
sebut sebagai revolusi mental .
Pada
tulisan beliau yang mengangkat judul revolusi mental, jokowi menjadikan konsep
trisakti dari bung karno sebagai acuan sekaligus sebagai patron beliau dalam
membuat konsep revolusi mental ini.
Namun seiring perjalanan waktu mulai dari pengumuman
pemenang pemilu oleh KPU dan MK sampai pada pengumuman kabinet hingga detik
ini, konsep yang begitu mendasar dan cemerlang ini menguap begitu saja ke
permukaan.
Revolusi
Mental harus di manifestasikan secara nyata
Terlalu
dini memang, jika di katakan jokowi meninggalkan konsep ini dan hanya
menjadikan revolusi mental sebagai instrumen politik belaka, namun pada
kenyataannya kata revolusi mental tertinggal oleh frasa kabinet kerja, kartu
indonesia sehat dan kartu indeonesia pintar, belum lagi isu lain seperti
kenaikan harga bbm dan juga penghapusan kolom agama di KTP. Padahal revolusi
mental merupakan ide sekaligus role model yang sangat berharga untuk menuju
kepada kedaulatan bangsa seutuhnya.
Revolusi sendiri dapat diartikan sebagai perubahan sosial
dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau
pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat
direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa
kekerasan atau melalui kekerasan.
Sementara
mental secara harfiah dapat di artikan sebagai hal-hal yang berkenaan dengan
batin dan watak manusia. Revolusi mental bisa dikatakan perubahan secara cepat
terhadap sesuatu yang berkenaan dengan batin dan watak (pola fikir dan
kebiasaan), tentu perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang sifatnya
progresif dan visioner.
Dengan
konsep revolusi mental di harapkan dapat terjadi character building
(pembangunan karakter) manusia indonesia, tidak melulu pembangunan fisik yang
diutamakan.
Sejujurnya saya kagum dengan konsep yang beliau angkat
pada pemilu lalu, namun jika melihat keseriusan beliau dalam menjalankan
revolusi mental belakangan ini, malah justru saya menjadi pesimis.
Hal
utama yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana implementasi dari revolusi
mental ini di jalankan dan apa sesungguhnya yang menjadi manifestasi dari
revolusi mental di dalam pemerintahan.
Merujuk pada hal tersebut alangkah baiknya jika pak joko
widodo membuat sebuah lembaga atau kementerian yang fokus pada masalah
pembenahan mental atau revolusi mental bangsa, mungkin bisa di sebut sebagai “lembaga
atau kementerian pemikiran negara”, sebuah kementerian atau lembaga yang
menjalankan tugas dan fungsi utama sebagai pencetus ide, gagasan dan perumusan
sekaligus sebagai pembelajaran terhadap pembenahan mental dan budaya bangsa
dalam hal ini adalah proses pembiasaan rakyat sampai dapat terbentuk masyarakat
dengan karakter dan pola fikir yang di harapkan mengubah mentalitas bangsa
sesuai dengan cita-cita trisakti sebagai patron dari revolusi mental.
Selain
itu, kementerian atau lembaga ini juga di fungsikan sebagai penjaga nilai luhur
ideologi bangsa yaitu, Pancasila, dari gangguan ideologi lain. Adanya hal tersebut
di harapkan menjadi jalan keluar, juga solusi dari masalah krisis mentalitas
bangsa sehingga butuh di revolusi. Dengan demikian dapat menyentuh lebih dalam
kajian dan diskusi-diskusi soal revolusi mental termasuk implementasinya
terhadap masyarakat luas.
Sementara yang terjadi saat ini tidak ada satu pun
cerminan dalam pemerintahan yang menjadi manifestasi dari revolusi mental.
Postur kabinet yang di harapkan secara substantif dapat menyentuh pola fikir
bangsa dan membangun karakter manusia indonesia melalui revolusi mental, tidak
terjadi.
Kementerian
pendidikan sebagai ujung tombak dan manifestasi Revolusi Mental ?
Pemecahan
kementerian pendidikan menjadi 2, yaitu kementerian pendidikan dasar dan
kebudayaan lalu kementerian pendidikan menengah, tinggi dan riset tekhnologi,
tidak lantas menjadi jalan keluar dan memberi makna pada revolusi mental yang
di dengungkan selama ini. Bahkan cenderung tidak jelas arah dan tujuan dari
kementerian yang sebelumnya menjadi satu tersebut.
Apakah dengan pemisahan kementerian, lantas pak jokowi
dapat menjalankan revolusi mental sesuai harapannya ?
Kementerian pendidikan memang erat kaitannya dengan
proses pembentukan karakter, namun tidak ada urgensi memisahkan antara
pendidikan dasar dan pendidikan menengah juga tinggi.
Jika
sasarannya adalah pendidikan dasar diharapkan mendapat output yang lebih
nasionalis dan mengenal budaya bangsa karena substansi pendidikan menyoal
budaya ada di kementerian pendidikan dasar, lalu pendidikan menengah dan tinggi
diharapkan dapat menciptakan output yang berorientasi pada riset dan tekhnologi,
maka saya khawatir nantinya manusia indonesia yang cakap dalam riset tekhnologi
malah akan melupakan jati diri bangsa indonesia. Hal ini harus jelas arahnya
agar tidak salah kaprah.
Jika belajar pada restorasi meiji di jepang dan juga
revolusi industri di inggris, ada sebuah gerakan sosial yang menghantarkan
kondisi negara pada tingkatan perubahan. Revolusi industri lebih nyata, gerakan
perubahan sosial pada revolusi industri di tandai dengan banyaknya hasil
penemuan berdasar riset tekhnologi, sehingga menghantarkan inggris pada kondisi
industrialiasasi terhadap kehidupan sosialnya.
Perjalanannya
pun tidak tiba-tiba terjadi begitu saja, saat revolusi industri terjadi ada
beberapa lembaga riset yang menunjang itu semua, diantaranya The Royal Society for Improving Natural
Knowledge dan The Royal Society of
England (1662).
Hal ini memang lumrah dan cenderung harus di lakukan,
semangat revolusi mental yang selama ini menjadi jargon kampanye presiden joko
widodo di harapkan sebagai sebuah gerakan sosial yang didasari keinginan kuat
merubah mentalitas bangsa dengan presiden menjadi panglima.
Walaupun
pada akhir tulisan pak jokowi, isinya hanya menghimbau jika revolusi mental
harus di mulai dari pribadi masing-masing, jika ini mengenai kepentingan bangsa
dan negara kedepannya dan di anggap penting di lakukan maka harus ada aksi
nyata dari pak joko widodo soal revolusi mental dan jelas negara harus hadir di
dalam masyarakat agar terjadi kesinambungan demi terwujudnya revolusi mental.
Entah
dimulai dengan konsentrasi dan fokus pada sebuah lembaga atau di giatkan
melalui sistem yang nantinya di bangun pak jokowi dalam pemerintahannya. Satu
hal yang pasti, pak joko widodo jangan di biarkan sendiri dalam membentuk
tatanan indonesia yang hebat, tapi di perlukan sumbangsih dari seluruh pihak
dan elemen masyarakat dalam upaya mewujudkan karakter building melalui revolusi
mental agar tercipta kondisi seperti yang di cita-citakan founding father
melalui maklumat TRISAKTI.
Langganan:
Postingan (Atom)
