Selasa, 30 Desember 2014

Evaluasi perjalanan 2014 dan Resolusi 2015


          Hari ini saya baru menyempatkan diri kembali menulis, setelah kurang lebih satu minggu ini aktivitas menulis kurang sekali. Saya lebih banyak membaca atau menonton film di malam hari sambil sesekali hadir pada agenda-agenda harian.

            2014 segera berlalu, bagi saya, 2014 merupakan tahun yang penuh dinamika dan pengalaman berharga bagi diri saya. Tahun politik dimana saya ikut dalam pesta demokrasi indonesia, tidak sebagai pemain langsung namun membantu salah satu calon anggota legislatif yang ingin menjadi anggota dewan di DPR RI.            

          Calon saya kalah pada akhirnya, setelah kurang lebih 3 bulan saya berjibaku di dalam suksesi pemenangan calon. Namun hasil masih belum berpihak pada kami semua. Saya menyampaikan terimakasih kepada para senior yang senantiasa mendukung dan terus menerus memberi saya pelajaran tentang bagaimana saya harus bersikap. Saya fikir kapasitas saya tidak kalah dengan para senior dalam hal analisis politik, terbukti di bekasi analisis saya di lapangan mendapat apresiasi dari caleg.            

        Saya mengawali ini semua jelas tidak mudah, di tambah caleg saya yang memang orang chinese sehingga budaya kerja dan paradigma tentang politik sangat berbeda. Awalnya saya hanya menjadi juru foto atau lebih kepada kuli angkut instrumen kampanye si caleg. Namun lama-kelamaan saya di percaya juga untuk mengatur anggaran kampanye sampai dengan konsep kampanye bapak. Hingga setiap orang yang ingin menghubungi bapak harus melalui saya terlebih dahulu, begitupun bapak ketika ingin menghubungi tim di bawah harus melalui saya. Ini bukan aturan main bapak, hanya saja hukum alam dan memang kelamaan pola bapak seperti itu. Tidak mudah di percaya dan di anggap baik oleh orang chinese.            

       Itu terjadi sekitar bulan januari sampai dengan maret hingga menjelang pemilu pada april 2014. April 2014 pun kerja politik belum usai, saya masih harus merekap suara 3 kabupaten, mungkin saya orang pertama di tim bapak yang mengetahui total suara bapak. Hubungan bapak dengan saya sudah terlanjur dekat, mungkin karena percaya.            

       Lewat bulan april, masih ada pilpres, saya tidak terlalu ambil pusing dengan pilpres ini. Karena sudah jemu dengan politik, dimana-mana saya fikir sama saja politik itu kotor. Siapapun yang menjadi presiden sudah pasti memelihara lingkaran setan di istana, hanya membuat susah rakyat. Saya memilih yang lebih baik dan lebih sedikit keburukannya, uang sisa-sisa pileg saya hibahkan kembali ke pilpres guna menyokong logistik di daerah saya. Saya pakai waktu pilpres ini untuk lebih banyak melakukan kontemplasi soal yang sudah lalu daripada terjun kebawah lagi. Rasanya tidak mudah melewati post power syndrom, kekalahan terkadang membuat kita lelah juga.            

       Masalah percintaan juga saya jemu dan jenuh. Saya awalnya serius dengan mantan kekasih saya, tapi kadang di saat saya butuh di kuatkan untuk menghadapi persoalan hidup, saya malah di bebankan oleh masalah yang kecil tapi di besarkan. Kadang cinta memang bukan hanya soal hati tapi juga logika. Saya lelah dengan semuanya, logika saya juga mengatakan jika harus di akhiri. Kami berpacaran kurang lebih 7 atau 8 bulan saya lupa. Saya memang petarung dan biasa berjuang, tapi jika perjuangan hubungan hanya di lakukan oleh satu orang saya rasa itu kesia-siaan. Mungkin cinta sejati hanya ada untuk Tuhan.            

       2014 juga kuliah saya belum selesai, mungkin 2015 ini. Saya tidak terlalu ambisi untuk selesaikan kuliah. Bagi saya, mereka yang lulus kuliah terlebih dahulu dan mendapat IPK bagus tidak lebih dari mesin, mereka seolah membuat dehumanisasi pada diri mereka sendiri. Saya berani bertaruh jika saya di debatkan dengan pemilik IPK tertinggi di fakultas saya, saya lebih bisa memahami ilmu-ilmu ekonomi. Perjalanan hidup bisa dengan cepat merubah karakter orang, manusia dan sahabat yang saya kenal sangat egaliter dan humanis ketika kuliah, ketika lulus mereka sangat matrelialistis memandang hidup, seperti singa yang baru saja di lepas ke alam liar. Saya kira doktrin pendidikan sudah gagal di resapi para alumni kampus.            

       Akhir 2014 saya telah menemukan pijakan kaki saya, saya memahami hidup saya yang selalu berputar dengan cepat. Di 2013 pun begitu saya cepat ada di atas dan cepat pula berada di bawah, karena ini pula saya menikmati hidup ini sebagai sebuah petualangan.            

       Resolusi 2015

       Resolusi bagi saya adalah sebuah keinginan dan harapan yang di gantungkan pada perjalanan kehidupan ke depan. Biasanya dilakukan oleh orang secara umum pada pergantian tahun. 2014 setelah mengalami berbagai dinamika kehidupan, 2015 saya sudah memiliki beberapa planning yang segera harus di selesaikan. Bismillah.

1.  Kuliah saya harus lulus tahun 2015, mungkin setelah lulus kuliah saya siap untuk menjadi manusia yang tetap humanis. Tapi bukan bekerja di perusahaan tujuan saya lulus, tetap pada jalur pengabdian.


2.  Saya merencanakan membuat sebuah lembaga studi mungkin lebih familiar di sebut LSM yang fokus pada bidang kebijakan dan pembangunan daerah di kabupaten bekasi. Desember 2014 sudah saya habiskan waktu untuk rally ke berbagai tokoh dan pemangku jabatan di bekasi terkait keberadaan lembaga studi ini. Dan response mereka cukup bagus.

3.  Akhir desember saya juga di tawari untuk menjadi pengurus di PB GABBINDO (gabungan buruh islam indonesia). Saya excited dengan dunia baru ini. Buruh harus di cerahkan agar tidak terus menerus di jadikan alat oleh sebagian oknum atas nama kesejahteraan buruh.

4.  Mudah-mudahan terwujud, saya ingin membuat usaha kecil juga nantinya.

5.  Masalah cinta saya nothing to lose, saya tidak ingin membebankan seseorang untuk menemani kerasnya hidup saya. Tapi saya sangat berterimakasih pada kamu yang telah dengan baik menemani hari-hari saya, menjadi teman bertukar fikiran, dan sebagainya. Kelihatannya saya mulai jatuh cinta dengannya.


 Keep struggle and don’t stop believing.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar