Evaluasi perjalanan 2014 dan Resolusi 2015
Hari
ini saya baru menyempatkan diri kembali menulis, setelah kurang lebih satu
minggu ini aktivitas menulis kurang sekali. Saya lebih banyak membaca atau
menonton film di malam hari sambil sesekali hadir pada agenda-agenda harian.
2014
segera berlalu, bagi saya, 2014 merupakan tahun yang penuh dinamika dan
pengalaman berharga bagi diri saya. Tahun politik dimana saya ikut dalam pesta
demokrasi indonesia, tidak sebagai pemain langsung namun membantu salah satu
calon anggota legislatif yang ingin menjadi anggota dewan di DPR RI.
Calon
saya kalah pada akhirnya, setelah kurang lebih 3 bulan saya berjibaku di dalam
suksesi pemenangan calon. Namun hasil masih belum berpihak pada kami semua.
Saya menyampaikan terimakasih kepada para senior yang senantiasa mendukung dan
terus menerus memberi saya pelajaran tentang bagaimana saya harus bersikap.
Saya fikir kapasitas saya tidak kalah dengan para senior dalam hal analisis
politik, terbukti di bekasi analisis saya di lapangan mendapat apresiasi dari
caleg.
Saya
mengawali ini semua jelas tidak mudah, di tambah caleg saya yang memang orang
chinese sehingga budaya kerja dan paradigma tentang politik sangat berbeda.
Awalnya saya hanya menjadi juru foto atau lebih kepada kuli angkut instrumen
kampanye si caleg. Namun lama-kelamaan saya di percaya juga untuk mengatur
anggaran kampanye sampai dengan konsep kampanye bapak. Hingga setiap orang yang
ingin menghubungi bapak harus melalui saya terlebih dahulu, begitupun bapak
ketika ingin menghubungi tim di bawah harus melalui saya. Ini bukan aturan main
bapak, hanya saja hukum alam dan memang kelamaan pola bapak seperti itu. Tidak
mudah di percaya dan di anggap baik oleh orang chinese.
Itu
terjadi sekitar bulan januari sampai dengan maret hingga menjelang pemilu pada
april 2014. April 2014 pun kerja politik belum usai, saya masih harus merekap
suara 3 kabupaten, mungkin saya orang pertama di tim bapak yang mengetahui
total suara bapak. Hubungan bapak dengan saya sudah terlanjur dekat, mungkin
karena percaya.
Lewat
bulan april, masih ada pilpres, saya tidak terlalu ambil pusing dengan pilpres
ini. Karena sudah jemu dengan politik, dimana-mana saya fikir sama saja politik
itu kotor. Siapapun yang menjadi presiden sudah pasti memelihara lingkaran
setan di istana, hanya membuat susah rakyat. Saya memilih yang lebih baik dan
lebih sedikit keburukannya, uang sisa-sisa pileg saya hibahkan kembali ke
pilpres guna menyokong logistik di daerah saya. Saya pakai waktu pilpres ini
untuk lebih banyak melakukan kontemplasi soal yang sudah lalu daripada terjun
kebawah lagi. Rasanya tidak mudah melewati post power syndrom, kekalahan
terkadang membuat kita lelah juga.
Masalah
percintaan juga saya jemu dan jenuh. Saya awalnya serius dengan mantan kekasih
saya, tapi kadang di saat saya butuh di kuatkan untuk menghadapi persoalan
hidup, saya malah di bebankan oleh masalah yang kecil tapi di besarkan. Kadang
cinta memang bukan hanya soal hati tapi juga logika. Saya lelah dengan
semuanya, logika saya juga mengatakan jika harus di akhiri. Kami berpacaran
kurang lebih 7 atau 8 bulan saya lupa. Saya memang petarung dan biasa berjuang,
tapi jika perjuangan hubungan hanya di lakukan oleh satu orang saya rasa itu
kesia-siaan. Mungkin cinta sejati hanya ada untuk Tuhan.
2014
juga kuliah saya belum selesai, mungkin 2015 ini. Saya tidak terlalu ambisi
untuk selesaikan kuliah. Bagi saya, mereka yang lulus kuliah terlebih dahulu
dan mendapat IPK bagus tidak lebih dari mesin, mereka seolah membuat
dehumanisasi pada diri mereka sendiri. Saya berani bertaruh jika saya di debatkan
dengan pemilik IPK tertinggi di fakultas saya, saya lebih bisa memahami
ilmu-ilmu ekonomi. Perjalanan hidup bisa dengan cepat merubah karakter orang,
manusia dan sahabat yang saya kenal sangat egaliter dan humanis ketika kuliah,
ketika lulus mereka sangat matrelialistis memandang hidup, seperti singa yang
baru saja di lepas ke alam liar. Saya kira doktrin pendidikan sudah gagal di
resapi para alumni kampus.
Akhir
2014 saya telah menemukan pijakan kaki saya, saya memahami hidup saya yang
selalu berputar dengan cepat. Di 2013 pun begitu saya cepat ada di atas dan
cepat pula berada di bawah, karena ini pula saya menikmati hidup ini sebagai
sebuah petualangan.
Resolusi
2015
Resolusi bagi saya adalah sebuah keinginan dan
harapan yang di gantungkan pada perjalanan kehidupan ke depan. Biasanya
dilakukan oleh orang secara umum pada pergantian tahun. 2014 setelah mengalami
berbagai dinamika kehidupan, 2015 saya sudah memiliki beberapa planning yang
segera harus di selesaikan. Bismillah.
1. Kuliah
saya harus lulus tahun 2015, mungkin setelah lulus kuliah saya siap untuk
menjadi manusia yang tetap humanis. Tapi bukan bekerja di perusahaan tujuan
saya lulus, tetap pada jalur pengabdian.
2. Saya
merencanakan membuat sebuah lembaga studi mungkin lebih familiar di sebut LSM
yang fokus pada bidang kebijakan dan pembangunan daerah di kabupaten bekasi.
Desember 2014 sudah saya habiskan waktu untuk rally ke berbagai tokoh dan
pemangku jabatan di bekasi terkait keberadaan lembaga studi ini. Dan response
mereka cukup bagus.
3. Akhir
desember saya juga di tawari untuk menjadi pengurus di PB GABBINDO (gabungan
buruh islam indonesia). Saya excited dengan dunia baru ini. Buruh harus di
cerahkan agar tidak terus menerus di jadikan alat oleh sebagian oknum atas nama
kesejahteraan buruh.
4. Mudah-mudahan
terwujud, saya ingin membuat usaha kecil juga nantinya.
5. Masalah
cinta saya nothing to lose, saya tidak ingin membebankan seseorang untuk
menemani kerasnya hidup saya. Tapi saya sangat berterimakasih pada kamu yang
telah dengan baik menemani hari-hari saya, menjadi teman bertukar fikiran, dan
sebagainya. Kelihatannya saya mulai jatuh cinta dengannya.
Keep struggle and don’t stop believing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar