Senin, 08 Juni 2015

Celoteh


Hari-hari terasa lebih panjang, seperti mengurai keadaan yang lalu. Hanya saja lain rupa, tingkah mereka hampir serupa. Tak ubahnya matahari yang nampak saat fajar.

Aku bercengkrama soal bangsa dengan mereka, soal presiden yang sering salah ucap, soal mahasiswa yang lari ke kampus berlindung di antara besarnya kerumunan sejarah, soal rakyat yang berbicara sendiri tak peduli ada saudara di sampingnya.

Lama aku tak berjubah anak gerakan, di asuh senior sembilan lapan (98'), ya ternyata masih sama. Mereka berbicara seakan aku masih mahasiswa 3 tahun lalu. Senior ini kadang seperti dewa, tapi aku tak suka lagaknya yang seperti siwa.


Dulu kita berdiskusi soal isu apa yang kita angkat untuk demo esok, di kedai kopi sederhana, paling sambil jilat roti bakar keju. Sekarang abang, ajak saya diskusi di kafe, sajiannya beda, menjilat pantat penguasa. Kita berbicara soal rakyat yang besok masih harus berfikir akan makan apa. Kafenya dingin dan sejuk.
Maaf bang, saya tetap pada jalur melawan pemerintahan. Asiknya jadi aktivis, berlawanan pun masih tetap berkawan. Siapa tau besok ganti penguasa, kita ganti posisi, saya berkawan penguasa, abang melawan penguasa. Kita masih tetap hidup, walaupun kadang pongah tak terjamah, tetap saja nafas adalah seorang demonstran.


Kita bikin rame !!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar