Di sore hari, saat matahari hampir tiba di peraduannya. Socrates dan
plato berbincang hangat, kali ini bukan menyoal budaya, masyarakat
ataupun alam. Tapi kali ini menyoal hakekat dasar manusia, CINTA.
Plato bertanya pada socrates, sebenarnya bagaimana bentuk cinta
sejati dalam pencarian di kehidupan ? Lalu socrates mengajak plato ke
sebuah hamparan rumput. Sambil berjalan,
socrates mengambil beberapa ranting pohon lalu menyimpannya. Di tempat
tujuan socrates menyuruh plato diam, lalu socrates berjalan sambil
meletakkan ranting-ranting yang di ambilnya tadi pada hamparan rumput,
secara berbaris satu per satu.
Socrates lalu menghampiri plato, dan berkata, plato ini analogi
pencarian cinta sejati. Kamu berjalan ke arah ranting yang telah ku
susun tadi, temukan lah ranting terbaik, tapi kamu tidak boleh mundur
lagi ketika ranting terbaik sudah kau temukan.
Lalu plato berjalan sambil memilih ranting yang menurutnya terbaik.
Beberapa menit berlalu, dan plato menemui socrates tanpa satu pun
ranting yang ia ambil.
Socrates bertanya, kenapa tidak ada satu pun ranting yang kau ambil ?
Jawaban plato, ketika aku berjalan dan mulai mencari, di tengah
pencarianku aku telah dapatkan ranting terbaik, tapi aku mencoba
berspekulasi, mungkin di depan sana masih ada yang lebih baik. Tapi aku
salah, di depan sana tidak ada ranting yang lebih baik dari yang ku
temukan tadi. Karena tidak boleh mundur, akhirnya aku tidak mengambil
satu pun. Sebab aku telah lewatkan ranting terbaik itu dengan spekulasi
di depan masih ada yang lebih baik.
Itulah cinta sejati. Tanpa kita sadari dia sering kita lewatkan demi
waktu ke depan yang membuat kita mencari, alhasil kekecewaan lah yang
hadir. Yakinlah ketika menemukan yang terbaik, jangan berspekulasi
terhadap masa depan cinta yang ternyata tak jelas.
Sabtu, 13 September 2014
Jumat, 12 September 2014
RAKYAT punya kuasa, Bukan DPRD !!!
Indonesia sedang mengalami banyak ujian akhir-akhir ini, belakangan masyarakat indonesia di sibukkan oleh isu perubahan mendasar sistem pilkada langsung dengan pemilihan kepala daerah yang di serahkan kepada DPRD. Isu ini sungguh memilukan bagi negara demokrasi seperti indonesia.
Masih membekas di ingatan kita semua bagaimana perjalanan demokrasi di indonesia, 32 tahun indonesia di pimpin oleh sistem yang berprinsip otoritarian. Berujung pada penggulingan kekuasaan dan indonesia di hadiahi reformasi pada tahun 1998. Selepas reformasi 1998 indonesia terus mencari bentuk ideal dalam hal ini proses pemilihan kepala daerah. mengikuti alur sistem perpolitikan di indonesia, era reformasi yang menginginkan kedaulatan ada di tangan rakyat dan daerah sebagai penafsiran dari otonomi daerah. Hal tersebut di wujudkan dalam UU nomor 32 Tahun 2004 mengenai prosesi pemilihan kepala daerah, yang sebelumnya merupakan pengganti dari UU nomor 22 tahun 1999 yang secara substantif sangat berbeda. Pada UU nomor 22 tahun 1999 prosesi pemilihan kepala daerah di serahkan kepad DPRD, namun pada UU nomor 32 tahun 2004 prosesi pemilihan kepala daerah di lakukan secara langsung oleh masyarakat di daerah.
Dampak dan implikasi perubahan Undang-undang ini sangat berarti besar bagi wujud demokrasi dan partisipasi politik di indonesia. pada awalnya proses pemilihan kepala daerah secara langsung ini banyak menimbulkan polemik, dengan adanya pemilihan kepala daerah secara langsung maka gesekan politik sentimentil sangat sering terjadi pada daerah yang melakukan pemilihan kepala daerah, pada pemberitaan media massa sungguh sangat sering kita melihat konflik horizontal dari pemilihan kepala daerah ini akibat dari massa yang calonnya kalah seringkali tidak menerima kekalahan, belum lagi kita di suguhi pemberitaan para kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi, hal ini sangat sering kita dengar pada awal-awal sistem ini di terapkan.
Namun seiring berjalannya waktu maka semakin dewasa pula rakyat indonesia dalam berpolitik dan menghadapi pesta demokrasi di tiap daerah. sekarang kita jarang melihat adanya konflik horizontal di daerah akibat pemilukada. malahan sistem pemilihan langsung ini berhasil membuahkan pemimpin-pemimpin yang kredibel dan memiliki rasa memiliki terhadap daerah. Hal ini terjadi karena dengan adanya pemilihan langsung maka rakyat di sediakan putra-putri terbaik daerah untuk memimpin daerahnya, rakyat mengenal pemimpinnya dan tersedianya akses yang luas terhadap pemimpin daerah. Pemilihan kepala daerah juga membuahkan pemimpin-pemimpin muda yang kredibili dan kemampuannya di akui nasional, kita bisa menyebut joko widodo yang mengawali karier politik melalui pemilihan langsung di solo, ridwan kamil yang juga merupakan buah dari proses pemilihan langsung di kota bandung, juga ada bima arya seorang tokoh muda hasil dari pemilihan langsung di kota bogor.
Kita sudah hampir tidak mendengar lagi konflik horizontal di daerah walaupun di sebagian daerah hal itu masih terjadi karena sedang mengalami proses pendewasaan politik, namun buah dari proses pilkada langsung ini bisa kita panen hasilnya sekarang, dengan menelurkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas di daerah.
Seharusnya DPR RI tidak gegabah dalam mengambil keputusan, jika dasarnya adalah untuk kepentingan rakyat, maka rakyat yang mana ?
bukan sistemnya yang harus di ganti secara subsntansial namun prosesi dan hal teknisnya saja yang perlu di sempurnakan. Jangan mengambil hak rakyat karena syahwat politik segelintir kaum. Jangan memundurkan lagi peradaban yang sudah kita bangun dengan keringat dan darah. Juga jangan semakin mempertontonkan dagelan politik yang hanya akan merugikan rakyat. Pemilihan kepala daerah oleh DPRD merupakan perampasan hak politik rakyat dan juga cara-cara tidak bijak dengan menutup akses rakyat mengenal lebih pemimpin daerahnya. Kepala daerah bekerja untuk rakyat dan daerahnya bukan bekerja kepada DPRD oleh sebab itu rakyat punya hak mengambil keputusan siapa yang pantas memimpin daerahnya.
Masih membekas di ingatan kita semua bagaimana perjalanan demokrasi di indonesia, 32 tahun indonesia di pimpin oleh sistem yang berprinsip otoritarian. Berujung pada penggulingan kekuasaan dan indonesia di hadiahi reformasi pada tahun 1998. Selepas reformasi 1998 indonesia terus mencari bentuk ideal dalam hal ini proses pemilihan kepala daerah. mengikuti alur sistem perpolitikan di indonesia, era reformasi yang menginginkan kedaulatan ada di tangan rakyat dan daerah sebagai penafsiran dari otonomi daerah. Hal tersebut di wujudkan dalam UU nomor 32 Tahun 2004 mengenai prosesi pemilihan kepala daerah, yang sebelumnya merupakan pengganti dari UU nomor 22 tahun 1999 yang secara substantif sangat berbeda. Pada UU nomor 22 tahun 1999 prosesi pemilihan kepala daerah di serahkan kepad DPRD, namun pada UU nomor 32 tahun 2004 prosesi pemilihan kepala daerah di lakukan secara langsung oleh masyarakat di daerah.
Dampak dan implikasi perubahan Undang-undang ini sangat berarti besar bagi wujud demokrasi dan partisipasi politik di indonesia. pada awalnya proses pemilihan kepala daerah secara langsung ini banyak menimbulkan polemik, dengan adanya pemilihan kepala daerah secara langsung maka gesekan politik sentimentil sangat sering terjadi pada daerah yang melakukan pemilihan kepala daerah, pada pemberitaan media massa sungguh sangat sering kita melihat konflik horizontal dari pemilihan kepala daerah ini akibat dari massa yang calonnya kalah seringkali tidak menerima kekalahan, belum lagi kita di suguhi pemberitaan para kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi, hal ini sangat sering kita dengar pada awal-awal sistem ini di terapkan.
Namun seiring berjalannya waktu maka semakin dewasa pula rakyat indonesia dalam berpolitik dan menghadapi pesta demokrasi di tiap daerah. sekarang kita jarang melihat adanya konflik horizontal di daerah akibat pemilukada. malahan sistem pemilihan langsung ini berhasil membuahkan pemimpin-pemimpin yang kredibel dan memiliki rasa memiliki terhadap daerah. Hal ini terjadi karena dengan adanya pemilihan langsung maka rakyat di sediakan putra-putri terbaik daerah untuk memimpin daerahnya, rakyat mengenal pemimpinnya dan tersedianya akses yang luas terhadap pemimpin daerah. Pemilihan kepala daerah juga membuahkan pemimpin-pemimpin muda yang kredibili dan kemampuannya di akui nasional, kita bisa menyebut joko widodo yang mengawali karier politik melalui pemilihan langsung di solo, ridwan kamil yang juga merupakan buah dari proses pemilihan langsung di kota bandung, juga ada bima arya seorang tokoh muda hasil dari pemilihan langsung di kota bogor.
Kita sudah hampir tidak mendengar lagi konflik horizontal di daerah walaupun di sebagian daerah hal itu masih terjadi karena sedang mengalami proses pendewasaan politik, namun buah dari proses pilkada langsung ini bisa kita panen hasilnya sekarang, dengan menelurkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas di daerah.
Seharusnya DPR RI tidak gegabah dalam mengambil keputusan, jika dasarnya adalah untuk kepentingan rakyat, maka rakyat yang mana ?
bukan sistemnya yang harus di ganti secara subsntansial namun prosesi dan hal teknisnya saja yang perlu di sempurnakan. Jangan mengambil hak rakyat karena syahwat politik segelintir kaum. Jangan memundurkan lagi peradaban yang sudah kita bangun dengan keringat dan darah. Juga jangan semakin mempertontonkan dagelan politik yang hanya akan merugikan rakyat. Pemilihan kepala daerah oleh DPRD merupakan perampasan hak politik rakyat dan juga cara-cara tidak bijak dengan menutup akses rakyat mengenal lebih pemimpin daerahnya. Kepala daerah bekerja untuk rakyat dan daerahnya bukan bekerja kepada DPRD oleh sebab itu rakyat punya hak mengambil keputusan siapa yang pantas memimpin daerahnya.
Kamis, 11 September 2014
Refleksi Mahasiswa Dan Pemuda
Tahun 1998 reformasi dimulai, pendudukan gedung DPR/MPR terjadi, saat
itu beranjak sekolah dasar. Media ramai-ramai memberitakan bahwa
mahasiswa telah berhasil menduduki gedung DPR/MPR untuk menuntut adanya
reformasi dengan simbol turunnya rezim orde baru yang di komandoi pak
soeharto.
Dalam benak saya saat itu, menjadi mahasiswa itu hebat, kita bisa menggoreskan sejarah dengan tangan kita sendiri. Hanya mahasiswa yang bisa bahkan statusnya pun menjadi agent of change atau agen perubahan. Luar biasa beban dan tanggung jawab menyandang status itu. Perubahan dalam skala universal dan sifatnya yang masif.
Impian itu saya lanjutkan dan buktikan ketika masuk perguruan tinggi seperti apa sebenarnya dunia kampus yang di isi oleh kaum intelegensia. Hari pertama masuk sampai minggu pertama semua membosankan. Hanya belajar, duduk di kelas, menunggu dosen masuk, sebagian mengincar absen, sebagian memang berniat untuk mengetahui apa yang akan di jelaskan dosen.
Sebulan berjalan saya mulai mencari tau dan menghubungkannya ke sejarah.
Apa ini dunia yang saya impikan ?
Apa ini dunia yang bisa menghasilkan perubahan secara kumulatif ?
Semua kontradiktif dengan angan-angan saya.
Untuk mendapat Indeks prestasi yang baik tak jarang yang menggunakan berbagai cara, mencontek, melobby dosen dan sebagainya. Masuk kelas hanya mengincar absen karena penilaian afektif 40%. Ini dunia pembodohan. Katanya mereka agen perubahan, tapi apa yang mau di rubah kalau diri sendiri masih semrawut. Kalaupun tidak mau turun ke jalan silahkan rubah keadaan ini dengan kualitas individu yang akan menularkan kualitas secara masif lalu timbul pertumbuhan dan perubahan nantinya.
Tapi kualitas apa ?
Seperti apa gaya perubahannya jika budaya apatisme dan western yang di bawa masuk ke kampus ?
Indonesia butuh generasi muda yang nasionalis, bukan sekedar jenius. Indonesia butuh pemuda yang cerdas, tidak hanya pintar. Indonesia butuh pemuda yang berani mendobrak kungkungan zaman bukan malah terpenjara dengan modernisme.
Kita semua yang merasa muda dan memiliki andil dalam perubahan bangsa, mari kita berikan seluruh apa yang kita punya untuk bangsa ini.
Dalam benak saya saat itu, menjadi mahasiswa itu hebat, kita bisa menggoreskan sejarah dengan tangan kita sendiri. Hanya mahasiswa yang bisa bahkan statusnya pun menjadi agent of change atau agen perubahan. Luar biasa beban dan tanggung jawab menyandang status itu. Perubahan dalam skala universal dan sifatnya yang masif.
Impian itu saya lanjutkan dan buktikan ketika masuk perguruan tinggi seperti apa sebenarnya dunia kampus yang di isi oleh kaum intelegensia. Hari pertama masuk sampai minggu pertama semua membosankan. Hanya belajar, duduk di kelas, menunggu dosen masuk, sebagian mengincar absen, sebagian memang berniat untuk mengetahui apa yang akan di jelaskan dosen.
Sebulan berjalan saya mulai mencari tau dan menghubungkannya ke sejarah.
Apa ini dunia yang saya impikan ?
Apa ini dunia yang bisa menghasilkan perubahan secara kumulatif ?
Semua kontradiktif dengan angan-angan saya.
Untuk mendapat Indeks prestasi yang baik tak jarang yang menggunakan berbagai cara, mencontek, melobby dosen dan sebagainya. Masuk kelas hanya mengincar absen karena penilaian afektif 40%. Ini dunia pembodohan. Katanya mereka agen perubahan, tapi apa yang mau di rubah kalau diri sendiri masih semrawut. Kalaupun tidak mau turun ke jalan silahkan rubah keadaan ini dengan kualitas individu yang akan menularkan kualitas secara masif lalu timbul pertumbuhan dan perubahan nantinya.
Tapi kualitas apa ?
Seperti apa gaya perubahannya jika budaya apatisme dan western yang di bawa masuk ke kampus ?
Indonesia butuh generasi muda yang nasionalis, bukan sekedar jenius. Indonesia butuh pemuda yang cerdas, tidak hanya pintar. Indonesia butuh pemuda yang berani mendobrak kungkungan zaman bukan malah terpenjara dengan modernisme.
Kita semua yang merasa muda dan memiliki andil dalam perubahan bangsa, mari kita berikan seluruh apa yang kita punya untuk bangsa ini.
SENJA AWAL CERITA
Senja menjadi awal cerita, cerita cinta, dilema dan murka.
Aku masih mengingat kala senja dengan senyumnya.
Aku masih mengingat kala senja dengan ramahnya.
Senja itu masih sangat membekas di ingatan dunia.
Kasih sungguh tak sempurna dan bahkan tak bahagia.
Aku kira senyummu berbeda dari dimensi kaum hawa.
Ternyata semua dalam bingkai yang serupa.
Ya, semua tampak serupa walau tampak berbeda.
Mungkin dunia sedang ingin bersolek denganku.
Menunjukkan kepalsuan sambil terus berseru.
Sekali lagi aku kalah dengan pesona itu.
Pesona yang tak pernah padam dalam senja biru.
Aku tak tahu keberadaanmu kini, tapi yakinlah senja.
Doaku akan selalu bersemai di antara pedihnya cinta.
Aku masih mengingat kala senja dengan senyumnya.
Aku masih mengingat kala senja dengan ramahnya.
Senja itu masih sangat membekas di ingatan dunia.
Kasih sungguh tak sempurna dan bahkan tak bahagia.
Aku kira senyummu berbeda dari dimensi kaum hawa.
Ternyata semua dalam bingkai yang serupa.
Ya, semua tampak serupa walau tampak berbeda.
Mungkin dunia sedang ingin bersolek denganku.
Menunjukkan kepalsuan sambil terus berseru.
Sekali lagi aku kalah dengan pesona itu.
Pesona yang tak pernah padam dalam senja biru.
Aku tak tahu keberadaanmu kini, tapi yakinlah senja.
Doaku akan selalu bersemai di antara pedihnya cinta.
Langganan:
Postingan (Atom)