Di sore hari, saat matahari hampir tiba di peraduannya. Socrates dan
plato berbincang hangat, kali ini bukan menyoal budaya, masyarakat
ataupun alam. Tapi kali ini menyoal hakekat dasar manusia, CINTA.
Plato bertanya pada socrates, sebenarnya bagaimana bentuk cinta
sejati dalam pencarian di kehidupan ? Lalu socrates mengajak plato ke
sebuah hamparan rumput. Sambil berjalan,
socrates mengambil beberapa ranting pohon lalu menyimpannya. Di tempat
tujuan socrates menyuruh plato diam, lalu socrates berjalan sambil
meletakkan ranting-ranting yang di ambilnya tadi pada hamparan rumput,
secara berbaris satu per satu.
Socrates lalu menghampiri plato, dan berkata, plato ini analogi
pencarian cinta sejati. Kamu berjalan ke arah ranting yang telah ku
susun tadi, temukan lah ranting terbaik, tapi kamu tidak boleh mundur
lagi ketika ranting terbaik sudah kau temukan.
Lalu plato berjalan sambil memilih ranting yang menurutnya terbaik.
Beberapa menit berlalu, dan plato menemui socrates tanpa satu pun
ranting yang ia ambil.
Socrates bertanya, kenapa tidak ada satu pun ranting yang kau ambil ?
Jawaban plato, ketika aku berjalan dan mulai mencari, di tengah
pencarianku aku telah dapatkan ranting terbaik, tapi aku mencoba
berspekulasi, mungkin di depan sana masih ada yang lebih baik. Tapi aku
salah, di depan sana tidak ada ranting yang lebih baik dari yang ku
temukan tadi. Karena tidak boleh mundur, akhirnya aku tidak mengambil
satu pun. Sebab aku telah lewatkan ranting terbaik itu dengan spekulasi
di depan masih ada yang lebih baik.
Itulah cinta sejati. Tanpa kita sadari dia sering kita lewatkan demi
waktu ke depan yang membuat kita mencari, alhasil kekecewaan lah yang
hadir. Yakinlah ketika menemukan yang terbaik, jangan berspekulasi
terhadap masa depan cinta yang ternyata tak jelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar