Awal 2015 merupakan tahun penerapan dari perjanjian MEA
(Masyarakat Ekonomi Asean), perjanjian yang telah di tandatangani sejak orde
baru ini membuat berbagai pro kontra dari sebagian kalangan. Terutama para
pengamat ekonomi. Pasalnya indonesia di anggap belum siap untuk penerapan MEA.
Perjanjian yang di canangkan lebih dari satu dekade ini memiliki visi, jika indonesia
sudah mampu bersaing dengan negara ASEAN lain saat di terapkannya perjanjian
ini. Hal ini di karenakan ketika perjanjian tersebut di buat indonesia dalam
keadaan ekonomi lepas landas dan siap untuk menyongsong segala sesuatu yang
menyangkut penerapan pasar bebas di tahun-tahun mendatang.
Namun
pada nyatanya kondisi lepas landas yang sudah di rintis pemerintahan orde baru,
runtuh pada peristiwa reformasi 1998. Gejolak ekonomi 98 yang berimbas pada penurunan rezim
soeharto seolah membuat bangsa ini sempat kehilangan arah dan berjalan tanpa
radar. Hal ini membuat fakta kesiapan
indonesia dalam menghadapi pencanangan pasar bebas di era orde baru berbalik
360 derajat. Ekonomi indonesia berjalan sangat rentan. Walaupun pada beberapa
dekade terakhir indonesia bertumbuh cukup cepat, namun tetap saja pada sektor
pembangunan SDM, indonesia masih memiliki angka yang rendah dari standar indeks
pembangunan manusia yang telah di tetapkan Badan Program Pembangunan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan pada pelaporan pembangunan manusia
badan tersebut pada maret 2013 Indonesia menempati peringkat 111 dengan IPM
(indeks pembangunan manusia) 0.734 yang diklasifikasikan sebagai tingkatan
menengah dalam kualitas IPM.
Padahal
persaingan SDM antara negara ASEAN juga termaktub dalam prioritas perjanjian.
Dalam MEA terdapat 12 sektor prioritas yang salah satunya memuat soal free flow
of skilled labor (arus bebas tenaga kerja terampil). Artinya tenaga kerja
negara lain di kawasan ASEAN bebas bekerja di indonesia, pun begitu dengan
tenaga kerja indonesia.
Kesiapan
Generasi Muda Menyambut MEA
Jika
hal tersebut terus berlanjut dan tidak ada pembenahan dari pemerintah, maka di
khawatirkan tenaga kerja indonesia dan generasi muda indonesia akan tergerus
oleh tenaga kerja asing yang masuk ke indonesia. Alhasil indonesia hanya akan
menjadi penonton akibat kurang baiknya kesiapan negara dalam menghadapi MEA.
Jelas
hal ini akan sangat merugikan sekali bagi bangsa indonesia. Negara luar melihat
indonesia sebagai pasar yang besar dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi
dalam hal pasar konsumtif. Sementara jika menatap keluar, faktor pembentuk
produksi kita terlihat kurang berdaya saing.
Namun
di balik cerita kesulitan dan hambatan yang di hadapi SDM Indonesia dalam
menghadapi persaingan, saya masih melihat secara optimis peluang dari di
adakannya MEA bagi generasi muda indonesia. Pasar ekonomi kreatif dan
keunggulan kreatifitas generasi muda indonesia bisa menjadi komoditi yang
memiliki daya saing di dalam dan luar negeri. Sebagaimana kita tahu bahwa pasar
ekonomi kreatif belum terlalu banyak di lirik oleh negara asia tenggara lain.
Seperti industri musik, perfilman, handycraft maupun hasil seni budaya lainnya.
Jika
melihat sektor ekonomi kreatif, maka pada tahun 2013 saja tercatat perputaran
uang yang terjadi pada industri ini adalah sebesar 13,1 triliun rupiah, hal
tersebut belum dicatat berapa besaran penerimaan negara. Selama ini industri
kreatif yang di pandang sebelah mata oleh pemerintah justru mengalami
perkembangan yang signifikan.
Generasi
muda sudah sepantasnya menjadikan ini sebagai peluang, dengan modal kreatifitas
dan kemudahan akses yang terjadi pada era globalisasi di tambah terbukanya
pasar di asia tenggara dan belahan dunia lainnya, tidak menutup kemungkinan
jika industri kreatif kita mendapat tempat di dunia. Di tambah lagi dengan adanya
MEA ini malah justru akan membuat iklim yang kompetitif bagi pelaku ekonomi dan
generasi muda harus melihat ini sebagai peluang bukan hambatan.
Generasi
muda indonesia juga dapat berputar ke belakang, kembali ke masa puluhan tahun
lalu dimana seni budaya tradisional hidup dan menjadi tuan di negeri sendiri.
Alasannya adalah Indonesia merupakan negeri yang kaya akan seni dan budaya
tradisional dan pastinya tidak dimiliki negara lain. Jika generasi muda melihat
ini sebagai potensi ekonomi maka menghidupkan kembali seni budaya tradisional
merupakan jalan yang tepat dan dengan di tunjang kemampuan promosi dalam
berbahasa asing maka seni budaya tradisional akan menjadi produk wisata yang di
minati para pelancong mancanegara.
Peran
Pemerintah dalam Memacu Pembangunan Generasi Muda Indonesia
Kreatifitas dan
kemampuan melihat peluang sangat di butuhkan dalam era pasar bebas, membuat
sesuatu menjadi bernilai tambah dan menghasilkan nilai ekonomis yang diminati
pasar harus menjadi identitas generasi muda indonesia. Hanya saja jika
pemerintah juga tidak memberikan perhatian dan dukungan yang serius terhadap
hal ini maka kita harus bersiap melihat generasi muda Indonesia tergerus oleh
arus pasar yang begitu bebas nantinya.
Di negara
manapun pembangunan manusia merupakan hal yang menjadi agenda utama bagi
pemerintah, pemberian layanan kesehatan dan peningkatan kualitas pendidikan
masyarakat merupakan cermin utama dalam pembangunan manusia. Namun dalam negara
berkembang seperti indonesia pembangunan manusia tidak cukup hanya mencakup
kesehatan dan pendidikan namun juga peningkatan kualitas hidup dan jaminan
ketersediaan lapangan kerja sebagai penunjang ekonomi.
Menelisik dengan kaitan
antara pembangunan manusia, peran pemerintah dan tahun penerapan MEA, maka pemerintah
harus hadir di dalam masyarakat dalam upaya melindungi kepentingan bangsa di
negerinya sendiri.
Oleh sebab itu peran
pemerintah sangat di butuhkan bagi generasi muda yang sudah ataupun baru mulai
berkecimpung dan memasuki ranah industri kreatif. Pemerintah tidak bisa berdiam
diri saja melihat generasi muda bangsa berjuang melawan arus pasar bebas. Belum
terlambat jika kementerian yang ada mulai membenahi sektor industri kreatif.
Bagi saya penajaman kemampuan kreatifitas generasi muda bisa terjadi jika ada
kemudahan akses informasi dan permodalan bagi yang baru memulai. Selain itu
pemerintah juga harus mendukung kreatifitas anak bangsa melalui perlindungan
karya seni dalam industri kreatif dengan kepastian hukum bagi para pembajak
maupun plagiator.
Kemudian
yang lebih penting ketika sudah mulai banyak industri kreatif yang bertumbuh,
pemerintah juga harus bertanggung jawab membantu meng-hire target pasar luar
negeri dari produksi industri kreatif dalam negeri. Saat melakukan kampanye
pada pilpres lalu pak jokowi sempat menyinggung jika duta besar indonesia di
luar negeri harus juga berperan aktif mempromosikan dan menjadi sales bagi
bangsa indonesia. Artinya kedutaan indonesia di luar negeri bukan hanya
berperan sebagai kantor administrasi penduduk namun juga sebagai duta
pariwisata, seni, budaya dan produk industri kreatif indonesia di luar negeri.
Menteri luar negeri, menteri perdagangan, menteri koperasi dan menteri
perindustrian harus merumuskan program formulasi yang jitu untuk membuka
kesempatan industri kreatif indonesia masuk dan dapat di terima pasar luar
negeri.
Generasi
muda khususnya merupakan generasi masa depan bangsa, generasi dimana kita semua
akan melihat masa depan indonesia dengan lebih cerah sehingga nantinya bisa
menjadi mercusuar dunia seperti apa yang pernah di cita-citakan founding
father.
Beban
berat menyongsong tahun penerapan MEA ada di pundak generasi muda bangsa,
seberapa berkualitas dan berdaya saingkah generasi muda indonesia akan terlihat
nantinya, ketika arah ekonomi mengatakan indonesia sebagai pemain atau sekedar
penonton.
Untuk itu generasi muda sangat perlu untuk di perhatikan
oleh pemerintah agar jalan kehidupan generasi muda secara kumulatif dapat mempengaruhi
kondisi perbaikan bangsa indonesia. Apresiasi patut di berikan atas niat
pemerintahan Jokowi – JK dalam upaya membangun manusia indonesia, sedikit
tercermin dalam kementerian koordinator pembangunan manusia dan kesejahteraan
rakyat. Kita hanya tinggal menunggu program nyata pemerintah untuk membangun
manusia indonesia pada umumnya dan generasi muda secara khusus. Kita harus
optimis kepada bangsa indonesia dan pemerintah dalam iklim kompetisi dan pasar
bebas yang bernama MEA, karena dari optimisme akan terbangun kepercayaan dan
komitmen dalam pembangunan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar