Selasa, 16 Juni 2015

Generasi Muda Menghadapi MEA 2015

Awal 2015 merupakan tahun penerapan dari perjanjian MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), perjanjian yang telah di tandatangani sejak orde baru ini membuat berbagai pro kontra dari sebagian kalangan. Terutama para pengamat ekonomi. Pasalnya indonesia di anggap belum siap untuk penerapan MEA. Perjanjian yang di canangkan lebih dari satu dekade ini memiliki visi, jika indonesia sudah mampu bersaing dengan negara ASEAN lain saat di terapkannya perjanjian ini. Hal ini di karenakan ketika perjanjian tersebut di buat indonesia dalam keadaan ekonomi lepas landas dan siap untuk menyongsong segala sesuatu yang menyangkut penerapan pasar bebas di tahun-tahun mendatang.
            Namun pada nyatanya kondisi lepas landas yang sudah di rintis pemerintahan orde baru, runtuh pada peristiwa reformasi 1998. Gejolak ekonomi  98 yang berimbas pada penurunan rezim soeharto seolah membuat bangsa ini sempat kehilangan arah dan berjalan tanpa radar.  Hal ini membuat fakta kesiapan indonesia dalam menghadapi pencanangan pasar bebas di era orde baru berbalik 360 derajat. Ekonomi indonesia berjalan sangat rentan. Walaupun pada beberapa dekade terakhir indonesia bertumbuh cukup cepat, namun tetap saja pada sektor pembangunan SDM, indonesia masih memiliki angka yang rendah dari standar indeks pembangunan manusia yang telah di tetapkan Badan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan pada pelaporan pembangunan manusia badan tersebut pada maret 2013 Indonesia menempati peringkat 111 dengan IPM (indeks pembangunan manusia) 0.734 yang diklasifikasikan sebagai tingkatan menengah dalam kualitas IPM.
            Padahal persaingan SDM antara negara ASEAN juga termaktub dalam prioritas perjanjian. Dalam MEA terdapat 12 sektor prioritas yang salah satunya memuat soal free flow of skilled labor (arus bebas tenaga kerja terampil). Artinya tenaga kerja negara lain di kawasan ASEAN bebas bekerja di indonesia, pun begitu dengan tenaga kerja indonesia.

Kesiapan Generasi Muda Menyambut MEA
            Jika hal tersebut terus berlanjut dan tidak ada pembenahan dari pemerintah, maka di khawatirkan tenaga kerja indonesia dan generasi muda indonesia akan tergerus oleh tenaga kerja asing yang masuk ke indonesia. Alhasil indonesia hanya akan menjadi penonton akibat kurang baiknya kesiapan negara dalam menghadapi MEA.
            Jelas hal ini akan sangat merugikan sekali bagi bangsa indonesia. Negara luar melihat indonesia sebagai pasar yang besar dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi dalam hal pasar konsumtif. Sementara jika menatap keluar, faktor pembentuk produksi kita terlihat kurang berdaya saing.
            Namun di balik cerita kesulitan dan hambatan yang di hadapi SDM Indonesia dalam menghadapi persaingan, saya masih melihat secara optimis peluang dari di adakannya MEA bagi generasi muda indonesia. Pasar ekonomi kreatif dan keunggulan kreatifitas generasi muda indonesia bisa menjadi komoditi yang memiliki daya saing di dalam dan luar negeri. Sebagaimana kita tahu bahwa pasar ekonomi kreatif belum terlalu banyak di lirik oleh negara asia tenggara lain. Seperti industri musik, perfilman, handycraft maupun hasil seni budaya lainnya.
            Jika melihat sektor ekonomi kreatif, maka pada tahun 2013 saja tercatat perputaran uang yang terjadi pada industri ini adalah sebesar 13,1 triliun rupiah, hal tersebut belum dicatat berapa besaran penerimaan negara. Selama ini industri kreatif yang di pandang sebelah mata oleh pemerintah justru mengalami perkembangan yang signifikan.
            Generasi muda sudah sepantasnya menjadikan ini sebagai peluang, dengan modal kreatifitas dan kemudahan akses yang terjadi pada era globalisasi di tambah terbukanya pasar di asia tenggara dan belahan dunia lainnya, tidak menutup kemungkinan jika industri kreatif kita mendapat tempat di dunia. Di tambah lagi dengan adanya MEA ini malah justru akan membuat iklim yang kompetitif bagi pelaku ekonomi dan generasi muda harus melihat ini sebagai peluang bukan hambatan.
            Generasi muda indonesia juga dapat berputar ke belakang, kembali ke masa puluhan tahun lalu dimana seni budaya tradisional hidup dan menjadi tuan di negeri sendiri. Alasannya adalah Indonesia merupakan negeri yang kaya akan seni dan budaya tradisional dan pastinya tidak dimiliki negara lain. Jika generasi muda melihat ini sebagai potensi ekonomi maka menghidupkan kembali seni budaya tradisional merupakan jalan yang tepat dan dengan di tunjang kemampuan promosi dalam berbahasa asing maka seni budaya tradisional akan menjadi produk wisata yang di minati para pelancong mancanegara.

Peran Pemerintah dalam Memacu Pembangunan Generasi Muda Indonesia  
Kreatifitas dan kemampuan melihat peluang sangat di butuhkan dalam era pasar bebas, membuat sesuatu menjadi bernilai tambah dan menghasilkan nilai ekonomis yang diminati pasar harus menjadi identitas generasi muda indonesia. Hanya saja jika pemerintah juga tidak memberikan perhatian dan dukungan yang serius terhadap hal ini maka kita harus bersiap melihat generasi muda Indonesia tergerus oleh arus pasar yang begitu bebas nantinya.
            Di negara manapun pembangunan manusia merupakan hal yang menjadi agenda utama bagi pemerintah, pemberian layanan kesehatan dan peningkatan kualitas pendidikan masyarakat merupakan cermin utama dalam pembangunan manusia. Namun dalam negara berkembang seperti indonesia pembangunan manusia tidak cukup hanya mencakup kesehatan dan pendidikan namun juga peningkatan kualitas hidup dan jaminan ketersediaan lapangan kerja sebagai penunjang ekonomi.
Menelisik dengan kaitan antara pembangunan manusia, peran pemerintah dan tahun penerapan MEA, maka pemerintah harus hadir di dalam masyarakat dalam upaya melindungi kepentingan bangsa di negerinya sendiri.
Oleh sebab itu peran pemerintah sangat di butuhkan bagi generasi muda yang sudah ataupun baru mulai berkecimpung dan memasuki ranah industri kreatif. Pemerintah tidak bisa berdiam diri saja melihat generasi muda bangsa berjuang melawan arus pasar bebas. Belum terlambat jika kementerian yang ada mulai membenahi sektor industri kreatif. Bagi saya penajaman kemampuan kreatifitas generasi muda bisa terjadi jika ada kemudahan akses informasi dan permodalan bagi yang baru memulai. Selain itu pemerintah juga harus mendukung kreatifitas anak bangsa melalui perlindungan karya seni dalam industri kreatif dengan kepastian hukum bagi para pembajak maupun plagiator.
            Kemudian yang lebih penting ketika sudah mulai banyak industri kreatif yang bertumbuh, pemerintah juga harus bertanggung jawab membantu meng-hire target pasar luar negeri dari produksi industri kreatif dalam negeri. Saat melakukan kampanye pada pilpres lalu pak jokowi sempat menyinggung jika duta besar indonesia di luar negeri harus juga berperan aktif mempromosikan dan menjadi sales bagi bangsa indonesia. Artinya kedutaan indonesia di luar negeri bukan hanya berperan sebagai kantor administrasi penduduk namun juga sebagai duta pariwisata, seni, budaya dan produk industri kreatif indonesia di luar negeri. Menteri luar negeri, menteri perdagangan, menteri koperasi dan menteri perindustrian harus merumuskan program formulasi yang jitu untuk membuka kesempatan industri kreatif indonesia masuk dan dapat di terima pasar luar negeri.
            Generasi muda khususnya merupakan generasi masa depan bangsa, generasi dimana kita semua akan melihat masa depan indonesia dengan lebih cerah sehingga nantinya bisa menjadi mercusuar dunia seperti apa yang pernah di cita-citakan founding father.
            Beban berat menyongsong tahun penerapan MEA ada di pundak generasi muda bangsa, seberapa berkualitas dan berdaya saingkah generasi muda indonesia akan terlihat nantinya, ketika arah ekonomi mengatakan indonesia sebagai pemain atau sekedar penonton.
            Untuk itu generasi muda sangat perlu untuk di perhatikan oleh pemerintah agar jalan kehidupan generasi muda secara kumulatif dapat mempengaruhi kondisi perbaikan bangsa indonesia. Apresiasi patut di berikan atas niat pemerintahan Jokowi – JK dalam upaya membangun manusia indonesia, sedikit tercermin dalam kementerian koordinator pembangunan manusia dan kesejahteraan rakyat. Kita hanya tinggal menunggu program nyata pemerintah untuk membangun manusia indonesia pada umumnya dan generasi muda secara khusus. Kita harus optimis kepada bangsa indonesia dan pemerintah dalam iklim kompetisi dan pasar bebas yang bernama MEA, karena dari optimisme akan terbangun kepercayaan dan komitmen dalam pembangunan bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar