Kamis, 11 September 2014

Refleksi Mahasiswa Dan Pemuda

Tahun 1998 reformasi dimulai, pendudukan gedung DPR/MPR terjadi, saat itu beranjak sekolah dasar. Media ramai-ramai memberitakan bahwa mahasiswa telah berhasil menduduki gedung DPR/MPR untuk menuntut adanya reformasi dengan simbol turunnya rezim orde baru yang di komandoi pak soeharto.
Dalam benak saya saat itu, menjadi mahasiswa itu hebat, kita bisa menggoreskan sejarah dengan tangan kita sendiri. Hanya mahasiswa yang bisa bahkan statusnya pun menjadi agent of change atau agen perubahan. Luar biasa beban dan tanggung jawab menyandang status itu. Perubahan dalam skala universal dan sifatnya yang masif.
Impian itu saya lanjutkan dan buktikan ketika masuk perguruan tinggi seperti apa sebenarnya dunia kampus yang di isi oleh kaum intelegensia. Hari pertama masuk sampai minggu pertama semua membosankan. Hanya belajar, duduk di kelas, menunggu dosen masuk, sebagian mengincar absen, sebagian memang berniat untuk mengetahui apa yang akan di jelaskan dosen.
Sebulan berjalan saya mulai mencari tau dan menghubungkannya ke sejarah.
Apa ini dunia yang saya impikan ?
Apa ini dunia yang bisa menghasilkan perubahan secara kumulatif ?
Semua kontradiktif dengan angan-angan saya.
Untuk mendapat Indeks prestasi yang baik tak jarang yang menggunakan berbagai cara, mencontek, melobby dosen dan sebagainya. Masuk kelas hanya mengincar absen karena penilaian afektif 40%. Ini dunia pembodohan. Katanya mereka agen perubahan, tapi apa yang mau di rubah kalau diri sendiri masih semrawut. Kalaupun tidak mau turun ke jalan silahkan rubah keadaan ini dengan kualitas individu yang akan menularkan kualitas secara masif lalu timbul pertumbuhan dan perubahan nantinya.
Tapi kualitas apa ?
Seperti apa gaya perubahannya jika budaya apatisme dan western yang di bawa masuk ke kampus ?
Indonesia butuh generasi muda yang nasionalis, bukan sekedar jenius. Indonesia butuh pemuda yang cerdas, tidak hanya pintar. Indonesia butuh pemuda yang berani mendobrak kungkungan zaman bukan malah terpenjara dengan modernisme.
Kita semua yang merasa muda dan memiliki andil dalam perubahan bangsa, mari kita berikan seluruh apa yang kita punya untuk bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar