Sabtu, 10 Januari 2015

Mengembalikan Siklus Sejarah Kejayaan Sungai-Sungai Bekasi


Beberapa abad lalu tepatnya abad ke-5 masehi bekasi menjadi pusat peradaban kerajaan tarumanegara, jauh sebelum itu juga bekasi menjadi pusat kerajaan segarapasir. Berdasar catatan sejarah hal tersebut di buktikan melalui peninggalan sejarah prasasti tugu yang juga menjadi bukti mengenai peristiwa raja purnawarman mempersembahkan 1000 ekor lembu dalam memenuhi nazar telah berhasil membuat sungai gomati dan bhagasasi (sekarang kali bekasi) juga mengenai keberadaan situs sejarah di daerah desa buni bakti yang membuktikan keberadaan dan jejak historis kerajaan segarapasir (cikal bakal peradaban kerajaan di pulau jawa). Hal tersebut juga sekaligus menegaskan keberadaan bekasi yang menjadi pusat peradaban pada zamannya.

            Ini lumrah terjadi jika mengingat letak geografis bekasi yang banyak di aliri sungai besar dan bermuara pada laut utara jawa. Jika berkaca pada peradaban dunia, masyarakat terdahulu memang menaruh pusat kota dan peradaban di sekitaran daerah aliran sungai yang bermuara langsung pada laut, semisal sungai thebes di prancis dan juga peradaban mesir dengan sungai nil.

            Hal demikian di pengaruhi oleh kehidupan masyarakat dengan kegiatan ekonomi perdagangan, dan pelayaran menjadi alternatif jalur perdagangan yang mudah di akses. Jakarta pun menjadi hidup dan ramai ketika pemerintahan kolonial belanda membuka wilayah pemukiman di jakarta padahal tadinya jakarta merupakan daerah dataran rendah yang di penuhi oleh rawa-rawa. Dan menjadi pusat perdagangan karena memiliki tanjung yang memudahkan bersandarnya kapal dagang juga karena letak sungai ciliwung yang membelah jakarta. Konon sungai ciliwung dahulu ramai oleh kapal dagang dan aktivitas ekonomi penduduknya.

Kembalikan kejayaan sungai 
          
Jika menilik hal tersebut miris kalau bekasi sekarang terancam kehilangan akar sejarah dan budaya utamanya sungai sebagai sumber penghidupan masyarakat, ketika melihat daerah bantaran kali dan sungai yang jauh dari kata layak. Kali bekasi dan sungai citarum yang dulu menjadi denyut perekonomian masyarakat pada zaman kerajaan segarapasir dan tarumajaya, kini menyisakan berbagai masalah akibat kurangnya perhatian pemerintah. Tanggul citarum yang seringkali jebol di saat musim hujan dan airnya membanjiri sebagian wilayah bekasi seperti muaragembong dan cabangbungin menjadi masalah yang seakan tanpa solusi. Citarum seolah mencari perhatian seperti seorang anak kecil yang ingin di perhatikan dan di sayang orang tuanya, tidak ingin di lupakan begitu saja.

            Belum lagi masalah pencemaran air sungai yang terjadi akibat pembuangan limbah produksi yang sembarang di lakukan tanpa mempertimbangkan kerusakan lingkungan yang di timbulkan. Konon air sungai citarum yang dulu bersih dan menjadi surga bagi para pemancing kini terjadi pendangkalan akibat endapan limbah yang menjadi lupur dan mengakibatkan sedimentasi merusak ekosistem sungai yang ada. Menurut data yang ada, Dari data kualitas air yang diukur, kondisi Sungai Citarum sudah masuk ke tingkat pencemaran berat. Banyak parameter kunci yang sudah melebihi baku mutu, baik dari limbah organik hingga kandungan logam berat. Sekitar 40 persen limbah Sungai Citarum, merupakan limbah organik dan rumah tangga. Sisanya merupakan limbah kimia atau industri dan limbah peternakan serta pertanian (Pikiran Rakyat, 30 desember 2009). Sekarang citarum lebih sering memberi musibah daripada memberikan rezeki bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

            Serupa dengan sungai citarum, keadaan kali bekasi pun tak jauh lebih baik. Pencemaran air sungai yang terjadi pada tahap mengkhawatirkan, hal ini bisa di buktikan dengan berkurangnya secara signifikan ekosistem dalam sungai juga uji kadar pencemaran air dengan baku mutu air yang di semua DAS sungai bekasi ada di kelas 3 dan 4 artinya tercemar berat. Secara kasat mata pun dapat di lihat jika berwarna dan berbau. Hal ini sudah di tanggulangi sebetulnya dengan di keluarkannya PERGUB nomor 12 tahun 2013 tentang baku mutu air dan pengendalian pencemaran air yang di dalamnya termasuk sungai bekasi. Namun hingga sekarang belum ada dampak positif berarti bagi kelestarian sungai yang mengaliri bekasi khususnya dan jawa barat umumnya. Seakan pergub tersebut hanya menjadi label keabsahan jika pemerintah daerah bekerja serius, padahal kenyataan di lapangan tidak ada.

Raja Purnawarman Tidak Bisa Sendiri
       
Masalah sungai ini erat kaitannya dengan hajat hidup masyarakat bantaran sungai yang berprofesi sebagai petani, nelayan ataupun petambak. Jika keadaan sungai baik dan bersahabat maka penghasilan masyarakat pun akan meningkat yang juga secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut catatan yang ada, sekitar 10 juta populasi mendiami daerah aliran sungai citarum dan 25 juta populasi mendapat keuntungan atas keberadaannya secara langsung maupun tidak langsung. Bayangkan jika sungai yang melintasi bekasi khususnya seperti sungai citarum dan sungai bekasi ini tidak tercemar dan bebas dari buangan limbah berbahaya, tentu masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sungai-sungai ini akan semakin baik keadaan ekonominya.

            Malah tidak menutup kemungkinan kejayaan kerajaan tarumanegara dan kerajaan segarapasir akan kembali kepada bekasi era sekarang. Masyarakat pesisir dan masyarakat bantaran sungai merasakan hasil dan meningkatnya kesejahteraan dari baiknya lingkungan sungai. Seperti yang pernah terjadi berabad-abad silam.


            Butuh kerja keras dari semua pihak, raja purnawarman dalam membangun sungai gomati dan chandrabaga pun tidak seorang diri, beliau bersama rakyatnya bersama-sama dan gotong royong mengerjakan sungai tersebut agar daerah teralir sungai bisa merasakan manfaatnya hingga sawah-sawah mendapat irigasi, transportasi lintas sungai memadai dan sumberdaya yang di hasilkan dari sungai ini cukup untuk kebutuhan pangan rakyatnya. Begitu pula era sekarang, kita tidak bisa terus menerus menyalahi pemerintah akibat salah urusnya daerah yang berimbas pada pencemaran lingkungan, dibutuhkan juga partisipasi berbagai pihak guna menjaga kelestarian alam khususnya sungai yang ada di bekasi dan jawa barat. Masyarakat harus sadar dengan tidak membuang limbah rumah tangga ke sungai, pengusaha juga harus paham bagaimana menjaga kelestarian sungai dengan tidak memanfaatkan sungai sebagai kolam raksasa penampung limbah perusahaan, dan pemerintah juga harus berperan aktif dalam upaya menegakkan regulasi atas kelestarian lingkungan yang ada sambil juga membenahi setiap jengkal kerusakan alam yang telah terjadi. Kita tidak mewariskan alam pada anak cucu, tapi alam ini merupakan titipan dari anak cucu kita kelak. Maka sudah sepantasnya kita jaga dan pelihara bersama titipan alam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar