Beberapa abad lalu
tepatnya abad ke-5 masehi bekasi menjadi pusat peradaban kerajaan tarumanegara,
jauh sebelum itu juga bekasi menjadi pusat kerajaan segarapasir. Berdasar
catatan sejarah hal tersebut di buktikan melalui peninggalan sejarah prasasti
tugu yang juga menjadi bukti mengenai peristiwa raja purnawarman
mempersembahkan 1000 ekor lembu dalam memenuhi nazar telah berhasil membuat
sungai gomati dan bhagasasi (sekarang kali bekasi) juga mengenai keberadaan
situs sejarah di daerah desa buni bakti yang membuktikan keberadaan dan jejak
historis kerajaan segarapasir (cikal bakal peradaban kerajaan di pulau jawa).
Hal tersebut juga sekaligus menegaskan keberadaan bekasi yang menjadi pusat
peradaban pada zamannya.
Ini
lumrah terjadi jika mengingat letak geografis bekasi yang banyak di aliri
sungai besar dan bermuara pada laut utara jawa. Jika berkaca pada peradaban
dunia, masyarakat terdahulu memang menaruh pusat kota dan peradaban di
sekitaran daerah aliran sungai yang bermuara langsung pada laut, semisal sungai
thebes di prancis dan juga peradaban mesir dengan sungai nil.
Hal
demikian di pengaruhi oleh kehidupan masyarakat dengan kegiatan ekonomi
perdagangan, dan pelayaran menjadi alternatif jalur perdagangan yang mudah di
akses. Jakarta pun menjadi hidup dan ramai ketika pemerintahan kolonial belanda
membuka wilayah pemukiman di jakarta padahal tadinya jakarta merupakan daerah
dataran rendah yang di penuhi oleh rawa-rawa. Dan menjadi pusat perdagangan
karena memiliki tanjung yang memudahkan bersandarnya kapal dagang juga karena
letak sungai ciliwung yang membelah jakarta. Konon sungai ciliwung dahulu ramai
oleh kapal dagang dan aktivitas ekonomi penduduknya.
Kembalikan
kejayaan sungai
Jika menilik hal
tersebut miris kalau bekasi sekarang terancam kehilangan akar sejarah dan
budaya utamanya sungai sebagai sumber penghidupan masyarakat, ketika melihat
daerah bantaran kali dan sungai yang jauh dari kata layak. Kali bekasi dan
sungai citarum yang dulu menjadi denyut perekonomian masyarakat pada zaman
kerajaan segarapasir dan tarumajaya, kini menyisakan berbagai masalah akibat
kurangnya perhatian pemerintah. Tanggul citarum yang seringkali jebol di saat
musim hujan dan airnya membanjiri sebagian wilayah bekasi seperti muaragembong
dan cabangbungin menjadi masalah yang seakan tanpa solusi. Citarum seolah
mencari perhatian seperti seorang anak kecil yang ingin di perhatikan dan di
sayang orang tuanya, tidak ingin di lupakan begitu saja.
Belum
lagi masalah pencemaran air sungai yang terjadi akibat pembuangan limbah
produksi yang sembarang di lakukan tanpa mempertimbangkan kerusakan lingkungan
yang di timbulkan. Konon air sungai citarum yang dulu bersih dan menjadi surga
bagi para pemancing kini terjadi pendangkalan akibat endapan limbah yang
menjadi lupur dan mengakibatkan sedimentasi merusak ekosistem sungai yang ada. Menurut data yang ada, Dari data kualitas
air yang diukur, kondisi Sungai Citarum sudah masuk ke tingkat pencemaran
berat. Banyak parameter kunci yang sudah melebihi baku mutu, baik dari limbah
organik hingga kandungan logam berat. Sekitar 40 persen limbah Sungai Citarum,
merupakan limbah organik dan rumah tangga. Sisanya merupakan limbah kimia atau
industri dan limbah peternakan serta pertanian (Pikiran Rakyat, 30 desember
2009). Sekarang citarum lebih sering memberi musibah daripada memberikan
rezeki bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Serupa
dengan sungai citarum, keadaan kali bekasi pun tak jauh lebih baik. Pencemaran
air sungai yang terjadi pada tahap mengkhawatirkan, hal ini bisa di buktikan
dengan berkurangnya secara signifikan ekosistem dalam sungai juga uji kadar
pencemaran air dengan baku mutu air yang di semua DAS sungai bekasi ada di
kelas 3 dan 4 artinya tercemar berat. Secara kasat mata pun dapat di lihat jika
berwarna dan berbau. Hal ini sudah di tanggulangi sebetulnya dengan di
keluarkannya PERGUB nomor 12 tahun 2013 tentang baku mutu air dan pengendalian
pencemaran air yang di dalamnya termasuk sungai bekasi. Namun hingga sekarang
belum ada dampak positif berarti bagi kelestarian sungai yang mengaliri bekasi
khususnya dan jawa barat umumnya. Seakan pergub tersebut hanya menjadi label
keabsahan jika pemerintah daerah bekerja serius, padahal kenyataan di lapangan
tidak ada.
Raja
Purnawarman Tidak Bisa Sendiri
Masalah sungai ini erat
kaitannya dengan hajat hidup masyarakat bantaran sungai yang berprofesi sebagai
petani, nelayan ataupun petambak. Jika keadaan sungai baik dan bersahabat maka penghasilan
masyarakat pun akan meningkat yang juga secara otomatis akan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Menurut catatan yang ada, sekitar 10 juta populasi
mendiami daerah aliran sungai citarum dan 25 juta populasi mendapat keuntungan
atas keberadaannya secara langsung maupun tidak langsung. Bayangkan jika sungai
yang melintasi bekasi khususnya seperti sungai citarum dan sungai bekasi ini
tidak tercemar dan bebas dari buangan limbah berbahaya, tentu masyarakat yang
menggantungkan hidupnya pada sungai-sungai ini akan semakin baik keadaan
ekonominya.
Malah
tidak menutup kemungkinan kejayaan kerajaan tarumanegara dan kerajaan
segarapasir akan kembali kepada bekasi era sekarang. Masyarakat pesisir dan
masyarakat bantaran sungai merasakan hasil dan meningkatnya kesejahteraan dari
baiknya lingkungan sungai. Seperti yang pernah terjadi berabad-abad silam.
Butuh
kerja keras dari semua pihak, raja purnawarman dalam membangun sungai gomati
dan chandrabaga pun tidak seorang diri, beliau bersama rakyatnya bersama-sama
dan gotong royong mengerjakan sungai tersebut agar daerah teralir sungai bisa
merasakan manfaatnya hingga sawah-sawah mendapat irigasi, transportasi lintas
sungai memadai dan sumberdaya yang di hasilkan dari sungai ini cukup untuk
kebutuhan pangan rakyatnya. Begitu pula era sekarang, kita tidak bisa terus
menerus menyalahi pemerintah akibat salah urusnya daerah yang berimbas pada
pencemaran lingkungan, dibutuhkan juga partisipasi berbagai pihak guna menjaga
kelestarian alam khususnya sungai yang ada di bekasi dan jawa barat. Masyarakat
harus sadar dengan tidak membuang limbah rumah tangga ke sungai, pengusaha juga
harus paham bagaimana menjaga kelestarian sungai dengan tidak memanfaatkan
sungai sebagai kolam raksasa penampung limbah perusahaan, dan pemerintah juga
harus berperan aktif dalam upaya menegakkan regulasi atas kelestarian
lingkungan yang ada sambil juga membenahi setiap jengkal kerusakan alam yang
telah terjadi. Kita tidak mewariskan alam pada anak cucu, tapi alam ini
merupakan titipan dari anak cucu kita kelak. Maka sudah sepantasnya kita jaga dan
pelihara bersama titipan alam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar