Selasa, 16 Juni 2015

Generasi Muda Menghadapi MEA 2015

Awal 2015 merupakan tahun penerapan dari perjanjian MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), perjanjian yang telah di tandatangani sejak orde baru ini membuat berbagai pro kontra dari sebagian kalangan. Terutama para pengamat ekonomi. Pasalnya indonesia di anggap belum siap untuk penerapan MEA. Perjanjian yang di canangkan lebih dari satu dekade ini memiliki visi, jika indonesia sudah mampu bersaing dengan negara ASEAN lain saat di terapkannya perjanjian ini. Hal ini di karenakan ketika perjanjian tersebut di buat indonesia dalam keadaan ekonomi lepas landas dan siap untuk menyongsong segala sesuatu yang menyangkut penerapan pasar bebas di tahun-tahun mendatang.
            Namun pada nyatanya kondisi lepas landas yang sudah di rintis pemerintahan orde baru, runtuh pada peristiwa reformasi 1998. Gejolak ekonomi  98 yang berimbas pada penurunan rezim soeharto seolah membuat bangsa ini sempat kehilangan arah dan berjalan tanpa radar.  Hal ini membuat fakta kesiapan indonesia dalam menghadapi pencanangan pasar bebas di era orde baru berbalik 360 derajat. Ekonomi indonesia berjalan sangat rentan. Walaupun pada beberapa dekade terakhir indonesia bertumbuh cukup cepat, namun tetap saja pada sektor pembangunan SDM, indonesia masih memiliki angka yang rendah dari standar indeks pembangunan manusia yang telah di tetapkan Badan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan pada pelaporan pembangunan manusia badan tersebut pada maret 2013 Indonesia menempati peringkat 111 dengan IPM (indeks pembangunan manusia) 0.734 yang diklasifikasikan sebagai tingkatan menengah dalam kualitas IPM.
            Padahal persaingan SDM antara negara ASEAN juga termaktub dalam prioritas perjanjian. Dalam MEA terdapat 12 sektor prioritas yang salah satunya memuat soal free flow of skilled labor (arus bebas tenaga kerja terampil). Artinya tenaga kerja negara lain di kawasan ASEAN bebas bekerja di indonesia, pun begitu dengan tenaga kerja indonesia.

Kesiapan Generasi Muda Menyambut MEA
            Jika hal tersebut terus berlanjut dan tidak ada pembenahan dari pemerintah, maka di khawatirkan tenaga kerja indonesia dan generasi muda indonesia akan tergerus oleh tenaga kerja asing yang masuk ke indonesia. Alhasil indonesia hanya akan menjadi penonton akibat kurang baiknya kesiapan negara dalam menghadapi MEA.
            Jelas hal ini akan sangat merugikan sekali bagi bangsa indonesia. Negara luar melihat indonesia sebagai pasar yang besar dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi dalam hal pasar konsumtif. Sementara jika menatap keluar, faktor pembentuk produksi kita terlihat kurang berdaya saing.
            Namun di balik cerita kesulitan dan hambatan yang di hadapi SDM Indonesia dalam menghadapi persaingan, saya masih melihat secara optimis peluang dari di adakannya MEA bagi generasi muda indonesia. Pasar ekonomi kreatif dan keunggulan kreatifitas generasi muda indonesia bisa menjadi komoditi yang memiliki daya saing di dalam dan luar negeri. Sebagaimana kita tahu bahwa pasar ekonomi kreatif belum terlalu banyak di lirik oleh negara asia tenggara lain. Seperti industri musik, perfilman, handycraft maupun hasil seni budaya lainnya.
            Jika melihat sektor ekonomi kreatif, maka pada tahun 2013 saja tercatat perputaran uang yang terjadi pada industri ini adalah sebesar 13,1 triliun rupiah, hal tersebut belum dicatat berapa besaran penerimaan negara. Selama ini industri kreatif yang di pandang sebelah mata oleh pemerintah justru mengalami perkembangan yang signifikan.
            Generasi muda sudah sepantasnya menjadikan ini sebagai peluang, dengan modal kreatifitas dan kemudahan akses yang terjadi pada era globalisasi di tambah terbukanya pasar di asia tenggara dan belahan dunia lainnya, tidak menutup kemungkinan jika industri kreatif kita mendapat tempat di dunia. Di tambah lagi dengan adanya MEA ini malah justru akan membuat iklim yang kompetitif bagi pelaku ekonomi dan generasi muda harus melihat ini sebagai peluang bukan hambatan.
            Generasi muda indonesia juga dapat berputar ke belakang, kembali ke masa puluhan tahun lalu dimana seni budaya tradisional hidup dan menjadi tuan di negeri sendiri. Alasannya adalah Indonesia merupakan negeri yang kaya akan seni dan budaya tradisional dan pastinya tidak dimiliki negara lain. Jika generasi muda melihat ini sebagai potensi ekonomi maka menghidupkan kembali seni budaya tradisional merupakan jalan yang tepat dan dengan di tunjang kemampuan promosi dalam berbahasa asing maka seni budaya tradisional akan menjadi produk wisata yang di minati para pelancong mancanegara.

Peran Pemerintah dalam Memacu Pembangunan Generasi Muda Indonesia  
Kreatifitas dan kemampuan melihat peluang sangat di butuhkan dalam era pasar bebas, membuat sesuatu menjadi bernilai tambah dan menghasilkan nilai ekonomis yang diminati pasar harus menjadi identitas generasi muda indonesia. Hanya saja jika pemerintah juga tidak memberikan perhatian dan dukungan yang serius terhadap hal ini maka kita harus bersiap melihat generasi muda Indonesia tergerus oleh arus pasar yang begitu bebas nantinya.
            Di negara manapun pembangunan manusia merupakan hal yang menjadi agenda utama bagi pemerintah, pemberian layanan kesehatan dan peningkatan kualitas pendidikan masyarakat merupakan cermin utama dalam pembangunan manusia. Namun dalam negara berkembang seperti indonesia pembangunan manusia tidak cukup hanya mencakup kesehatan dan pendidikan namun juga peningkatan kualitas hidup dan jaminan ketersediaan lapangan kerja sebagai penunjang ekonomi.
Menelisik dengan kaitan antara pembangunan manusia, peran pemerintah dan tahun penerapan MEA, maka pemerintah harus hadir di dalam masyarakat dalam upaya melindungi kepentingan bangsa di negerinya sendiri.
Oleh sebab itu peran pemerintah sangat di butuhkan bagi generasi muda yang sudah ataupun baru mulai berkecimpung dan memasuki ranah industri kreatif. Pemerintah tidak bisa berdiam diri saja melihat generasi muda bangsa berjuang melawan arus pasar bebas. Belum terlambat jika kementerian yang ada mulai membenahi sektor industri kreatif. Bagi saya penajaman kemampuan kreatifitas generasi muda bisa terjadi jika ada kemudahan akses informasi dan permodalan bagi yang baru memulai. Selain itu pemerintah juga harus mendukung kreatifitas anak bangsa melalui perlindungan karya seni dalam industri kreatif dengan kepastian hukum bagi para pembajak maupun plagiator.
            Kemudian yang lebih penting ketika sudah mulai banyak industri kreatif yang bertumbuh, pemerintah juga harus bertanggung jawab membantu meng-hire target pasar luar negeri dari produksi industri kreatif dalam negeri. Saat melakukan kampanye pada pilpres lalu pak jokowi sempat menyinggung jika duta besar indonesia di luar negeri harus juga berperan aktif mempromosikan dan menjadi sales bagi bangsa indonesia. Artinya kedutaan indonesia di luar negeri bukan hanya berperan sebagai kantor administrasi penduduk namun juga sebagai duta pariwisata, seni, budaya dan produk industri kreatif indonesia di luar negeri. Menteri luar negeri, menteri perdagangan, menteri koperasi dan menteri perindustrian harus merumuskan program formulasi yang jitu untuk membuka kesempatan industri kreatif indonesia masuk dan dapat di terima pasar luar negeri.
            Generasi muda khususnya merupakan generasi masa depan bangsa, generasi dimana kita semua akan melihat masa depan indonesia dengan lebih cerah sehingga nantinya bisa menjadi mercusuar dunia seperti apa yang pernah di cita-citakan founding father.
            Beban berat menyongsong tahun penerapan MEA ada di pundak generasi muda bangsa, seberapa berkualitas dan berdaya saingkah generasi muda indonesia akan terlihat nantinya, ketika arah ekonomi mengatakan indonesia sebagai pemain atau sekedar penonton.
            Untuk itu generasi muda sangat perlu untuk di perhatikan oleh pemerintah agar jalan kehidupan generasi muda secara kumulatif dapat mempengaruhi kondisi perbaikan bangsa indonesia. Apresiasi patut di berikan atas niat pemerintahan Jokowi – JK dalam upaya membangun manusia indonesia, sedikit tercermin dalam kementerian koordinator pembangunan manusia dan kesejahteraan rakyat. Kita hanya tinggal menunggu program nyata pemerintah untuk membangun manusia indonesia pada umumnya dan generasi muda secara khusus. Kita harus optimis kepada bangsa indonesia dan pemerintah dalam iklim kompetisi dan pasar bebas yang bernama MEA, karena dari optimisme akan terbangun kepercayaan dan komitmen dalam pembangunan bangsa.

Jumat, 12 Juni 2015

Matinya Angeline dan Harapan anak-anak Indonesia

            Beberapa hari ini media di indonesia ramai memberitakan kematian seorang gadis kecil asal Bali bernama Angeline. Setelah sebelumnya anak kecil yang tinggal bersama ibu angkatnya ini di beritakan menghilang dari rumahnya, melalui laporan ke kepolisian dan juga posting ke media sosial akhirnya publik mengetahui hilangnya gadis cantik ini. Ada dugaan sebelumnya jika angeline melarikan diri akibat tidak tahan dengan siksaan fisik yang di lakukan ibu angkatnya setiap hari. Dan ternyata setelah melalui proses penyelidikan oleh kepolisian, angeline di temukan tewas terkubur di belakang rumahnya dengan luka fisik di tubuhnya. Kematian Angeline adalah duka bagi kita semua, kematian angeline adalah cermin dari masih banyaknya kekerasan yang di lakukan pada anak-anak bangsa Indonesia.
            Miris melihat hal ini, mengingat anak-anak adalah generasi penerus bangsa, tonggak kemajuan bangsa Indonesia di masa depan ada di tangan mereka. Namun nasib mereka jarang sekali menjadi perhatian negara. Kecuali jika ada agenda musiman mengenai anak atau tekanan dari negara luar untuk lebih memperhatikan nasib anak Indonesia atas nama HAM (hak azazi manusia). Kasus angeline telah menjadi nasehat dan pelajaran berharga bagi orang tua dan masyarakat Indonesia, tentang bagaimana indikasi anak yang mendapat kekerasan dari lingkungan tinggalnya.
            Dari pemberitaan pula angeline di ketahui jika menjadi murung pada saat bergaul dengan teman sekolahnya belakangan ini, bahkan ada tanda penganiayaan fisik di tubuhnya. Namun hal tersebut di anggap angin lalu oleh mereka yang mengetahui.
            Kasus angeline juga terdeskripsikan di luar nalar bagi kita semua, selain kekerasan fisik dari orangtua angkatnya, angeline juga mendapat perlakuan tidak menyenangkan, hal yang teramat keji bagi kita yang berfikir. Selama tinggal di tempat orang tua angkatnya di Bali, angeline mendapat kekerasan seksual dari penjaga rumah atau pegawai ibu angkatnya. Anak seumur angeline mendapatkan kekerasan fisik dan seksual dari lingkungan tinggalnya, jelas hal ini mengganggu kejiwaan angeline sebagai manusia apalagi sebagai anak-anak. Ini bukan kematian biasa atau juga sudah lumrah dan biasa kehilangan satu nyawa, tapi ini tentang bagaimana kekerasan terhadap anak masih sangat banyak terjadi.            

             Hal ini mengganggu nurani saya, di luar kasus angeline masih banyak cerita dan kasus kekerasan pada anak yang terjadi di Indonesia, entah itu di lakukan keluarga, lingkungan permainan, ataupun oleh orang yang tak di kenal. Secara Lembaga Indonesia memiliki KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), namun lembaga ini seakan kekurangan tajinya dalam formulasi mengurangi kekerasan anak. Sepertinya lembaga ini berperan pada hal yang sudah terjadi (penindakan) tapi kurang fokus pada tindak pencegahan (preventif) kekerasan pada anak. Saya tidak bermaksud menyinggung KPAI dalam maraknya kasus kekerasan pada anak, tapi coba KPAI lebih produktif dalam hal-hal yang bersifat pencegahan.
            Kita masyarakat Indonesia tentu berharap untuk tidak ada lagi kasus kekerasan anak yang terjadi, jangan ada lagi nyawa anak melayang akibat kekerasan yang di lakukan lingkungannya. Kasus angeline, gadis cantik yang tak berdosa, tidak tau apa-apa soal tujuan hidup, tidak mengerti kenapa dia di pukul hingga lebam, tidak paham kenapa setiap hari ada rasa sakit di tubuhnya, membuat kita seharusnya perduli dan lebih menjaga anak-anak, entah di keluarga kita ataupun di lingkungan kita. Laporkan segera pada pihak yang berwenang bila ada anak terindikasi mengalami kekerasan fisik, seksual maupun psikis.
            Harapan anak-anak Indonesia tidak boleh mati, anak-anak juga adalah harapan kita semua. Di masa depan, anak-anak inilah yang akan memegang kuasa pada dunia. Pada anak-anak inilah bangsa Indonesia akan menjadi mercusuar dunia. Mereka penerus generasi, mereka pewaris yang berjati diri. Hentikan kekerasan pada anak. Bangun karakter cinta Tanah Air dan bangsa Indonesia pada Jiwa mereka. Karena itulah Negara harus senantiasa hadir dalam upaya melindungi dan memelihara anak-anak sebagai aset masa depan Bangsa Indonesia. Angeline kematian mu akan jadi nasehat untuk kami agar lebih baik lagi memberi perlakuan pada yang sebaya Mu. Tenanglah disana, Doa kami menyertaimu Nak.



RIP ANGELINE................... 

Selasa, 09 Juni 2015

Tokoh Pewayangan SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) 
yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri sosok semar adalah :
Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :
Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri

Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 )

Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 )

Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

Sumber : Fanpage Facebook ILMU Kejawen

Senin, 08 Juni 2015

Celoteh


Hari-hari terasa lebih panjang, seperti mengurai keadaan yang lalu. Hanya saja lain rupa, tingkah mereka hampir serupa. Tak ubahnya matahari yang nampak saat fajar.

Aku bercengkrama soal bangsa dengan mereka, soal presiden yang sering salah ucap, soal mahasiswa yang lari ke kampus berlindung di antara besarnya kerumunan sejarah, soal rakyat yang berbicara sendiri tak peduli ada saudara di sampingnya.

Lama aku tak berjubah anak gerakan, di asuh senior sembilan lapan (98'), ya ternyata masih sama. Mereka berbicara seakan aku masih mahasiswa 3 tahun lalu. Senior ini kadang seperti dewa, tapi aku tak suka lagaknya yang seperti siwa.


Dulu kita berdiskusi soal isu apa yang kita angkat untuk demo esok, di kedai kopi sederhana, paling sambil jilat roti bakar keju. Sekarang abang, ajak saya diskusi di kafe, sajiannya beda, menjilat pantat penguasa. Kita berbicara soal rakyat yang besok masih harus berfikir akan makan apa. Kafenya dingin dan sejuk.
Maaf bang, saya tetap pada jalur melawan pemerintahan. Asiknya jadi aktivis, berlawanan pun masih tetap berkawan. Siapa tau besok ganti penguasa, kita ganti posisi, saya berkawan penguasa, abang melawan penguasa. Kita masih tetap hidup, walaupun kadang pongah tak terjamah, tetap saja nafas adalah seorang demonstran.


Kita bikin rame !!!!

Sabtu, 10 Januari 2015

Mengembalikan Siklus Sejarah Kejayaan Sungai-Sungai Bekasi


Beberapa abad lalu tepatnya abad ke-5 masehi bekasi menjadi pusat peradaban kerajaan tarumanegara, jauh sebelum itu juga bekasi menjadi pusat kerajaan segarapasir. Berdasar catatan sejarah hal tersebut di buktikan melalui peninggalan sejarah prasasti tugu yang juga menjadi bukti mengenai peristiwa raja purnawarman mempersembahkan 1000 ekor lembu dalam memenuhi nazar telah berhasil membuat sungai gomati dan bhagasasi (sekarang kali bekasi) juga mengenai keberadaan situs sejarah di daerah desa buni bakti yang membuktikan keberadaan dan jejak historis kerajaan segarapasir (cikal bakal peradaban kerajaan di pulau jawa). Hal tersebut juga sekaligus menegaskan keberadaan bekasi yang menjadi pusat peradaban pada zamannya.

            Ini lumrah terjadi jika mengingat letak geografis bekasi yang banyak di aliri sungai besar dan bermuara pada laut utara jawa. Jika berkaca pada peradaban dunia, masyarakat terdahulu memang menaruh pusat kota dan peradaban di sekitaran daerah aliran sungai yang bermuara langsung pada laut, semisal sungai thebes di prancis dan juga peradaban mesir dengan sungai nil.

            Hal demikian di pengaruhi oleh kehidupan masyarakat dengan kegiatan ekonomi perdagangan, dan pelayaran menjadi alternatif jalur perdagangan yang mudah di akses. Jakarta pun menjadi hidup dan ramai ketika pemerintahan kolonial belanda membuka wilayah pemukiman di jakarta padahal tadinya jakarta merupakan daerah dataran rendah yang di penuhi oleh rawa-rawa. Dan menjadi pusat perdagangan karena memiliki tanjung yang memudahkan bersandarnya kapal dagang juga karena letak sungai ciliwung yang membelah jakarta. Konon sungai ciliwung dahulu ramai oleh kapal dagang dan aktivitas ekonomi penduduknya.

Kembalikan kejayaan sungai 
          
Jika menilik hal tersebut miris kalau bekasi sekarang terancam kehilangan akar sejarah dan budaya utamanya sungai sebagai sumber penghidupan masyarakat, ketika melihat daerah bantaran kali dan sungai yang jauh dari kata layak. Kali bekasi dan sungai citarum yang dulu menjadi denyut perekonomian masyarakat pada zaman kerajaan segarapasir dan tarumajaya, kini menyisakan berbagai masalah akibat kurangnya perhatian pemerintah. Tanggul citarum yang seringkali jebol di saat musim hujan dan airnya membanjiri sebagian wilayah bekasi seperti muaragembong dan cabangbungin menjadi masalah yang seakan tanpa solusi. Citarum seolah mencari perhatian seperti seorang anak kecil yang ingin di perhatikan dan di sayang orang tuanya, tidak ingin di lupakan begitu saja.

            Belum lagi masalah pencemaran air sungai yang terjadi akibat pembuangan limbah produksi yang sembarang di lakukan tanpa mempertimbangkan kerusakan lingkungan yang di timbulkan. Konon air sungai citarum yang dulu bersih dan menjadi surga bagi para pemancing kini terjadi pendangkalan akibat endapan limbah yang menjadi lupur dan mengakibatkan sedimentasi merusak ekosistem sungai yang ada. Menurut data yang ada, Dari data kualitas air yang diukur, kondisi Sungai Citarum sudah masuk ke tingkat pencemaran berat. Banyak parameter kunci yang sudah melebihi baku mutu, baik dari limbah organik hingga kandungan logam berat. Sekitar 40 persen limbah Sungai Citarum, merupakan limbah organik dan rumah tangga. Sisanya merupakan limbah kimia atau industri dan limbah peternakan serta pertanian (Pikiran Rakyat, 30 desember 2009). Sekarang citarum lebih sering memberi musibah daripada memberikan rezeki bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

            Serupa dengan sungai citarum, keadaan kali bekasi pun tak jauh lebih baik. Pencemaran air sungai yang terjadi pada tahap mengkhawatirkan, hal ini bisa di buktikan dengan berkurangnya secara signifikan ekosistem dalam sungai juga uji kadar pencemaran air dengan baku mutu air yang di semua DAS sungai bekasi ada di kelas 3 dan 4 artinya tercemar berat. Secara kasat mata pun dapat di lihat jika berwarna dan berbau. Hal ini sudah di tanggulangi sebetulnya dengan di keluarkannya PERGUB nomor 12 tahun 2013 tentang baku mutu air dan pengendalian pencemaran air yang di dalamnya termasuk sungai bekasi. Namun hingga sekarang belum ada dampak positif berarti bagi kelestarian sungai yang mengaliri bekasi khususnya dan jawa barat umumnya. Seakan pergub tersebut hanya menjadi label keabsahan jika pemerintah daerah bekerja serius, padahal kenyataan di lapangan tidak ada.

Raja Purnawarman Tidak Bisa Sendiri
       
Masalah sungai ini erat kaitannya dengan hajat hidup masyarakat bantaran sungai yang berprofesi sebagai petani, nelayan ataupun petambak. Jika keadaan sungai baik dan bersahabat maka penghasilan masyarakat pun akan meningkat yang juga secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut catatan yang ada, sekitar 10 juta populasi mendiami daerah aliran sungai citarum dan 25 juta populasi mendapat keuntungan atas keberadaannya secara langsung maupun tidak langsung. Bayangkan jika sungai yang melintasi bekasi khususnya seperti sungai citarum dan sungai bekasi ini tidak tercemar dan bebas dari buangan limbah berbahaya, tentu masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sungai-sungai ini akan semakin baik keadaan ekonominya.

            Malah tidak menutup kemungkinan kejayaan kerajaan tarumanegara dan kerajaan segarapasir akan kembali kepada bekasi era sekarang. Masyarakat pesisir dan masyarakat bantaran sungai merasakan hasil dan meningkatnya kesejahteraan dari baiknya lingkungan sungai. Seperti yang pernah terjadi berabad-abad silam.


            Butuh kerja keras dari semua pihak, raja purnawarman dalam membangun sungai gomati dan chandrabaga pun tidak seorang diri, beliau bersama rakyatnya bersama-sama dan gotong royong mengerjakan sungai tersebut agar daerah teralir sungai bisa merasakan manfaatnya hingga sawah-sawah mendapat irigasi, transportasi lintas sungai memadai dan sumberdaya yang di hasilkan dari sungai ini cukup untuk kebutuhan pangan rakyatnya. Begitu pula era sekarang, kita tidak bisa terus menerus menyalahi pemerintah akibat salah urusnya daerah yang berimbas pada pencemaran lingkungan, dibutuhkan juga partisipasi berbagai pihak guna menjaga kelestarian alam khususnya sungai yang ada di bekasi dan jawa barat. Masyarakat harus sadar dengan tidak membuang limbah rumah tangga ke sungai, pengusaha juga harus paham bagaimana menjaga kelestarian sungai dengan tidak memanfaatkan sungai sebagai kolam raksasa penampung limbah perusahaan, dan pemerintah juga harus berperan aktif dalam upaya menegakkan regulasi atas kelestarian lingkungan yang ada sambil juga membenahi setiap jengkal kerusakan alam yang telah terjadi. Kita tidak mewariskan alam pada anak cucu, tapi alam ini merupakan titipan dari anak cucu kita kelak. Maka sudah sepantasnya kita jaga dan pelihara bersama titipan alam ini.